Kamis, 10 Mei 2012

Pengalaman Naik Kereta Api (1)

Lempuyangan, salah satu stasiun yang sering saya datangi

-->
Pengalaman saya menaiki kereta api sudah bermula sejak saya masih belum bisa jalan, atau mungkin sejak saya berada di dalam kandungan. Dulu, ketika orangtua saya belum memiliki kendaraan pribadi, saya dan keluarga selalu menggunakan kereta api jika bepergian. Kebetulan tempat yang sering saya kunjungi adalah rumah Bude di Rawamangun dan rumah Mbah di Karanganyar, Kebumen. Praktislah sejak kecil saya hapal semua stasiun dari Bekasi-Jatinegara, jika kerumah Bude, dan dari Bekasi-Karanganyar, jika kerumah Mbah. Berbagai cerita terjadi dari pengalaman-pengalaman saya naik kereta api. Dan saya akan sedikit berbagi tentang cerita-cerita saya selama naik kereta api.

Ketika saya kelas 3 SMA dulu, saya mengikuti bimbel yang berada di SMAN 8 Jakarta. Karena itulah, setiap hari Minggu saya harus naik KRL Jabodetabek dari Stasiun Bekasi turun di Stasiun Jatinegara lalu lanjut angkot hingga SMAN 8 Jakarta. Saya lebih sering memilih naik KRL Ekonomi seharga Rp 1.500,00 dibandingkan dengan KRL Ekonomi AC seharga Rp 4.500,00. Alasannya jelas karena lebih murah, hehe. Untuk lebih menghemat biaya, setiap Minggu pagi saya sudah berada di Stasiun Bekasi jam 05.30 agar dapat naik kereta dari Jawa Tengah yang bisa saya naiki dengan gratis, hahaha. Pernah dengan alasan biaya juga, saya rela menunggu 4 jam di Stasiun Jatinegara demi naik KRL Ekonomi. Padahal KRL Ekonomi AC sudah berkali-kali lewat. Hahaha entah saya ini irit atau kelewat pelit, hingga menambah Rp 3.000,00 untuk KRL Ekonomi AC saja saya tidak mau :p

Kejadian-kejadian bodoh karena keteledoran saya pun beberapa kali saya alami. Awal tahun 2010, untuk pertama kalinya saya naik Kereta Senja Utama Jogja dari Stasiun Tugu. Di jadwal, Senja Utama berangkat jam 18.30. Saya pikir berangkat dari kontrakan (di Jakal Km 6,5) jam 17.00 tidak akan tertinggal kereta. Sayangnya, karena saya ke stasiun naik Trans Jogja, tepat jam 18.30 Trans Jogja baru sampai di halte Inna Garuda. Langsung lah saya dengan brutalnya lari menuju Stasiun Tugu. Daaaaaaaan tidak sampai 3 detik saya berada di dalam kereta, kereta itu langsung jalan! Saya langsung lemas selemas-lemasnya. Penderitaan tak cukup sampai disitu. Ketika sampai di Stasiun Bekasi, saya baru tahu kalau Senja Utama Jogja tidak berhenti di Bekasi! Kereta yang berhenti adalah Senja Utama Solo bukan Jogja. Bagaimana perasaan kamu, ketika dari jendela kereta kamu melihat Bapakmu, tapi kereta tetap melaju dan kondisi handphone-mu mati? Yak sempurna sekali penderitaan saya, hahaha. Akhirnya dengan tidak tahu malu, saya memohon kepada Mas-yang-saya-tidak-kenal-siapa untuk meminjam handphone-nya dan mengirim sms ke Bapak saya. Untung Mas itu baik hati, sehingga saya tak hanya diijinkan untuk sms saja, bahkan disuruh langsung menelepon Bapak saya, hehehe. Setelah itu saya turun di Stasiun Jatinegara. Saya pikir, ketika saya sampai, Bapak saya juga sudah sampai. Tapi ternyata belum saudara-saudara! Dengan kondisi handphone yang mati, saya hanya bisa luntang-lantung seperti anak hilang. Kalau siang tidak masalah, tapi saat itu adalah jam 05.00! Untungnya lagi, saya menemukan tukang buah yang juga menjual jasa men-charger handphone seharga Rp 2.000,00 per jam. Oh terpujilah wahai engkau tukang buah merangkap tukang charger handphone. Lalu tak lama kemudian Bapak saya datang. Dan berakhirlah kisah bodoh saya dengan Kereta Senja Utama.

Kebodohan lain terjadi ketika saya pertama kalinya saya naik Kereta Bogowonto. Dulu, kereta ini adalah inovasi terbaru PT KAI yang menyediakan kereta ekonomi dengan fasilitas AC untuk kereta jarak jauh. Saya naik dari Stasiun Bekasi. Seperti biasa, ketika sudah naik, para penumpang langsung mencari dimana ia duduk. Kursi saya (kalau tidak salah) bernomer 16 B di gerbong 4. Tapi ternyata kursi saya sudah ditempati seorang ibu dengan ketiga keluarganya. Sontak saya langsung protes. Ibu itu pun tak mau pindah karena nomer yang ia duduki benar. Hingga akhirnya petugas pun datang melerai kami. Setelah di cek ternyata saya salah pesan tiket! Huahahaha. Misal, hari itu adalah tanggal 10 Mei, tapi di tiket saya tertulis 11 Mei. Padahal yang memesan tiket dan menulis tanggal itu ya saya sendiri. Sungguh saat itu saya malu sekaligus takut. Malu karena sudah protes dan ngotot ke Ibu, dan takut disuruh turun oleh petugas. Tapi ternyata di gerbong paling belakang banyak kursi kosong, sehingga petugas menyuruh saya pindah ke gerbong belakang. Setelah agak tenang, saya menelepon Ibu, dan reaksi Ibu saya hanya tertawa terbahak-bahak -_____-

Bersambung...








*tulisan kesepuluh dalam #31HariMenulis tahun kedua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar