Minggu, 28 Mei 2017

5 Hal yang Diperhatikan Generasi Millennial Saat Memilih Kerja



Beberapa bulan ke belakang, obrolan tentang Generasi Langgas atau Generasi Millennial memang lagi hangat-hangatnya dibicarakan. Wajar saja, karena generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan 2000 awal ini, lagi mendominasi dunia kerja. Topik tentang millennial pun nggak hanya muncul di berita online saja, tapi juga mulai merambah ke obrolan antar teman, baik secara langsung maupun di grup-grup chat.

Seperti yang saya alami. Belum lama ini, salah satu dari sekian grup WhatsApp saya yang aktif, yaitu Grup KIJKT5 Kelompok 52 (grup kelompok Kelas Inspirasi saya tahun lalu), sedang membahas tentang pekerjaan khususnya hal yang harus diperhatikan ketika memilih pekerjaan. Salah satu teman saya, Putri, yang bekerja di sebuah industri otomotif, melemparkan sebuah pertanyaan, hal apa saja sih yang jadi prioritas kami untuk memutuskan bekerja di sebuah perusahaan, termasuk kepada keputusan tetap bertahan atau harus resign.

Lalu dari sepuluh orang yang ikutan menjawab di grup, saya akan bahas lima poin sesuai peringkat, tentang hal-hal yang diperhatikan Generasi Millennial saat memilih kerja. Walau hanya sepuluh responden, tapi anggap lah bisa mewakili working millennial, karena kami bersepuluh ini berasal dari latar belakang yang beragam. Mulai dari millennial baru lulus kuliah sampai yang sudah bekerja tahunan. Mulai dari pekerja start-up sampai PNS. Mulai dari dokter sampai wartawan. Mulai dari karyawan di perusahaan baru sampai di perusahaan ternama.


1. Jenjang karir

Karir adalah peringkat pertama dari pilihan kami. Sebagai millennial, sudah bukan rahasia lagi kalau kami generasi yang butuh apresiasi, hehehe. Iqbal, seorang wartawan sebuah media besar di Jakarta berpendapat, "Buat gue, gaji memang penting, tapi kalau gaji gede karir mandek dan atasan ngebetein juga bikin nggak betah."

Agak sombong sih memang kedengarannya, tapi mungkin ini setara dengan energi kami yang selalu ingin belajar banyak hal baru. Seperti yang dibilang Rama, millennial termuda di grup kami yang baru saja lulus dan bekerja sebagai staff IT. "Kalau gue sih pilih kantor yang bisa mengembangkan ilmu gue lagi, yang nggak bikin stuck ilmunya. Soalnya haus ilmu, hehehe," katanya.

Karir juga bikin Wulan, staff legal yang sudah kerja lima tahun di perusahaan FMCG ternama, pengen cari kesempatan baru. "Udah enak sih, karyawan tetap, gaji dan benefit lumayan, tapi kalau udah lima tahun gini-gini aja karirnya, jadi suka kepikiran cari yang baru."


2. Lingkungan kerja

Bagi saya (saya juga termasuk ke dalam sepuluh responden, jadi boleh kan ya nulis pendapat sendiri, hehe) yang tipe orangnya sangat kolaboratif, lingkungan kerja menyenangkan harus jadi prioritas. Karena saya jadi nggak bisa kerja kalau nggak punya teman di kantor. Selain teman kerja, juga teman untuk sekedar berbagi gosip receh atau sekedar tertawa akan hal yang sebenarnya nggak lucu-lucu banget. Untungnya kantor saya yang didesain berlingkungan semi start-up, memenuhi kebutuhan itu.

Walau terkenal sebagai generasi adaptif, nyatanya lingkungan kerja, termasuk di dalamnya teman-teman, atasan, suasana, dan job description masih menjadi salah satu pertimbangan utama para working millennial.


3. Gaji dan fasilitas

Sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial, nggak bisa dibohongi kalau gaji jadi salah satu pertimbangan. Umumnya, tujuan manusia bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kegiatan bersosialnya. Tentu saja dengan uang.

Nah tapi uniknya, bab gaji ini bukan jadi pertimbangan paling utama bagi working millennial. Pembuktiannya ada di pendapat Iqbal dan Wulan di bagian "Jenjang karir" di atas. Beberapa dari millennial pun lebih concern mengenai fasilitas kantor selain gaji, seperti fasilitas makan siang, fasilitas olah raga, atau bahkan fasilitas hiburan di kantor.


4. Lokasi kantor

Bagi pekerja ibukota yang tinggalnya bukan di ibukota (baca: kerja di Jakarta tapi tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi), lokasi juga menjadi hal penting. Mengingat biaya kost di Jakarta yang kian mahal dan bisa memotong hampir sepertiga atau bahkan setengah gaji, adalah hal bijak bagi kami untuk mempertimbangkan lokasi kantor.

"Pertimbangan gue sih lokasi harus deket rumah, jadi nggak berat di ongkos dan uang gajinya cukup," ungkap Lissa, seorang dokter yang prakter di rumah sakit dekat rumahnya di daerah Jakarta Utara. Lain lagi dengan Indah, karyawan bank syariah yang sudah bertahun-tahun jadi anker, nama keren dari anak kereta. "Gue mah kerja dimana aja, tapi yang penting harus deket stasiun kereta, biar gampang pulang perginya," tambahnya yang sehari-hari harus pulang pergi Bekasi - Jakarta Selatan.


5. Sesuai dengan passion

Dari kelima pertimbangan, bekerja sesuai dengan passion jadi urutan paling buncit. Memang kenyataannya, banyak dari kami yang bekerja nggak sesuai dengan jurusan kuliah atau nggak sesuai dengan kesenangan sebenarnya. Tapi toh kami masih bertahan di pekerjaan masing-masing. Seenggaknya sampai tulisan ini diterbitin, hahaha.

Ada beberapa dari kami yang ingin mengejar passion-nya. Tapi realitanya, masih tetap bertahan di kantor sekarang. Contohnya adalah Putri, si pemberi ide bahasan ini. "Kadang pengen juga ngerasain nyoba di perusahaan yang sesuai background atau passion, tapi di kantor sekarang sudah ada di comfort zone, jadinya tetep di sini nggak resign."

Beberapa dari kami pun mencoba memenuhi hasrat dan kesenangan kami, seperti senang mengajar, senang fotografi, atau bahkan senang berjejaring, dengan mengikuti Kelas Inspirasi. Dengan begitu, kami tetap bisa bekerja di kantor masing-masing, tapi passion kami tetap tersalurkan di komunitas ini, hehehe.


Dan lalu, obrolan tentang hal ini ditutup dengan pendapat dari Rosa, anggota grup yang kami seniorkan karena pengalaman kerjanya yang sudah banyak dan malang melintang di berbagai perusahaan, "Sebaiknya, kalau kalian mau cari pekerjaan baru nggak hanya to increase our salary but how to build our career. Dan bagi gue yang sudah beberapa tahun kerja, keja itu nggak cuma ngejar aktualisasi dan cari uang aja, yang paling penting adalah bisa berkontribusi buat orang sekitar kita."


Jadi, kalau kamu gimana nih? Selain lima hal di atas, ada hal lain kah yang dijadikan pertimbangan saat memilih kerja? 

Sabtu, 10 Desember 2016

Surat untuk Limitless Campus




Halo Limitless Campus!

Apa kabar? Kalau lagi nggak baik-baik aja juga nggak apa-apa, kok. Kadang kita emang harus merasakan sakit buat tahu betapa enaknya sehat, hahahaha sok bijak, ye! Eh iya, mau kenalan dulu nih sebelumnya tentang diriku, Lim. Nyebut Lim, berasa manggil Junior Liem suaminya Putri Titian, ya? Hahahaha! Nggak apa-apa lah ya, biar lebih akrab, hihihi. Jadiiii, aku ini Annisa Ika Tiwi, biasa dipanggil Nisa, ada juga yang panggil Anis atau Tiwi, dan kalau di rumah dipanggilnya Icha. Aku sih lebih seneng dipanggil Cantik walau belom pernah ada yang panggil itu. Yak, silakan tertawa berjamaah! Hahaha. Aku ini seorang Pisces, Sanguinis, dan ESFP yang secara garis besar kepribadiannya itu ekstrovert, sangat perasa, suka sok sibuk karena mengiyakan semua peluang, suka kerja keras akan hal apapun, pelupa, berantakan, daaaan seneng banget jadi pusat perhatian, hehehe. Dari dulu sampai sekarang, cita-cita terpendamku adalah jadi artis, walau nggak tahu gimana cara wujudinnya, haha. Sehari-hari aku berprofesi sebagai Social Media Specialist lalu kadang di akhir pekan jadi kru Wedding Organizer.




Tahu nggak, alasan kenapa aku mau ikutan kegiatanmu ini, Lim? Karena mau balas dendam! Hahahaha! Ceritanya aku pernah baca sebuah quotes dari akun Instagram @thegoodquote, “The best revenge is to improve yourself.” Ya maklum, anaknya suka kehilangan semangat jadinya yang di-follow akun-akun quotes motivasi, mehehehe. Tapi diriku bukan penggemarnya Mario Teguh kok. Cuma suka ngikutin gosipnya aja di @lambe_turah. Hahahahaha, anywaaaayyy back to the revenge. Iya, aku mau balas dendam. Balas dendam ke diriku sendiri yang sampai di umur hampir 25 tahun ini, belom berbuat banyak hal berguna, nggak cuma untuk masyarakat tapi juga untuk diri sendiri. Balas dendam karena iri liat temen-temenku di umur yang sama udah dapet beasiswa kuliah ke luar negeri, udah bisa jadi manajer di perusahan tempat dia kerja, udah sukses bikin start up-nya sendiri, dan pencapaian-pencapaian lain. Aku mau balas dendam dengan buktiin, aku juga bisa kok berbuat hal-hal keren kayak mereka. Biasalah, aku anaknya iri-an banget, hahaha. Tapi iri untuk hal yang baik, boleh kan, Lim?


Thanks to Lintang, Ibu Kepala Sekolah Limitless Campus, temenku KKN (Kuliah Kerja Nyata) jaman kuliah dan temen komunitas Akademi Berbagi Jogja, yang udah ngasih informasi tentang kegiatan ini. Iya, di tengah kegalauan yang kata orang bahasa kerennya quarter life crisis, Tuhan ngasih aku solusi dengan kehadiran Lintang, hahaha. Suatu hari di sebuah kumpul geng KKN dalam rangka jenguk temen yang abis melahirkan, Lintang bilang kalo dia dan tim di kantornya lagi bikin sebuah kegiatan yang namanya Limitless Campus. Dari cerita Lintang, aku langsung kepo di medsos tentang kegiatan ini. Daaan aku ngerasa kalau Limitless Campus itu aku banget. Bahkan aku sampe turn on notification di Instagram biar pas pendaftaran Limitless Campus dibuka aku langsung daftar, hahaha. Bangga juga sih, akhirnya video interview tanpa persiapan sebagai syarat masuk Limitless Campus, di-upload di Instagram buat jadi contoh dan diliat banyak orang, hihihi. Dasar banci tampil! 


The one and only, Lintang Gustika! 

Aku seneng banget lho, Lim, pas aku diumumin lolos jadi 61 calon student dan disuruh dateng ke Soehana Hall, The Energy Building, 5 November yang kemudian diundur jadi 12 November, hehehe. Alhamdulillah puji Tuhan! Rasanya luar biasa senengnya, ketemu sama temen-temen baru dengan value dan energi yang sama. Sebenernya, perasaan seneng kayak gini bukan yang pertama sih buat aku. Perasaan ini sama rasanya pas aku ikut jadi Relawan Pengajar di Kelas Inspirasi Jakarta. Juga, perasaan yang sama tiap kali bikin kelas di Akademi Berbagi Jogja jaman kuliah dulu. Tapi ya, Lim, bisa dibilang aku tuh semacam ketagihan dengan rasa seneng kayak gitu. Rasa seneng ketemu teman baru, rasa seneng dapat ilmu baru, dan rasa seneng ada di lingkungan baru yang semuanya aku yakin bisa bikin aku balas dendam, hehehe. Semakin seneng karena akhirnya aku adalah satu dari 33 student di Limitless Campus batch 1. Yeay!


Day-0 bersama 61 calon student di Soehana Hall, The Energy Building 

Day-1 bersama 33 student di Wika Tower 

Oh iya, ada satu lagi deh kenapa aku pengen gabung kegiatanmu ini, Lim, selain balas dendam. Apalagi kalau bukan karena Rene Suhardono! Hahaha! Aku udah ngikutin Rene dari jaman buku Your Job is Not Your Career. Bahkan pas Rene ngisi di kelas Akber Jogja, aku ngajuin diri buat jadi MC. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah biar Rene tau aku hahaha. Dan itu berhasil, lho. Beberapa tahun kemudian, pas aku datengin acara di Comma, aku bilang Rene kalau aku anak Akber Jogja yang dulu jadi MC. Terus Rene bilang, "Ah iya gue inget lo, Sob! Apa kabar?" Rasanya seneng banget, cooooy. Yaaa walaupun nggak tau ya Rene jujur apa enggak. Tapi aku percaya kok kalo Rene jujur, mehehehehe. Setelah masuk Limitless Campus dan ketemu banyak mentor dan coach, ternyata idolaku ganti. Eh bukan ganti deh tapi nambah. Aku sekarang jadi mengidolakan Mas Didi Mudita, hahaha. Pandji Pragiwaksono dan Indra Bekti aja di-training sama Mas Didi. Kebayang lah betapa kerennya doi, hihihi. Suka banget aja sama semua yang Mas Didi omongin, yaa nggak semuanya sih hehe. Mas Didi tuh suka ngomong ake guyonan-guyonan yang lucu abis tapi malah jadi kena di pikiran.

Nah, ada ceita lagi nih, Lim. Pas aku pamit di Soehana Hall tanggal 12 November, Rene tanya aku, “Mau masuk house mana?” Eng... jujur bingung mau jawab apa. Sebelumnya kan cuma dijelasin sekilas tentang kita akan dibagi jadi lima house yaitu Agni (api), Bhumi (bumi), Bayu (angin), Giri (kayu), dan Tirta (air), tanpa aku tahu arti selanjutnya, hehehe. Terus, aku cuma asal jawab aja yang terlintas di pikiran. "Kayaknya pengen masuk Bayu deh, Rene." "Loh emang kenapa?" "Ya kayaknya gue anaknya suka kesana-kesini kayak angin." Daaaan emang bener kata Nabi Muhammad SAW yaaa, omongan adalah doa! Di minggu kedua kelas di Wika Tower tanggal 19 November, pas para students dibagi kelompok (house) berdasarkan kecocokan coach dan student, aku dapet House of Bayu doooong. Padahal yaaa paginya di hari itu aku udah bilang ke Lintang jangan sampe aku masuk House of Bayu hahaha. Jadi gini Lim, Bayu itu nama mantanku hahahahaha. Makanyaaaa pas Rene tanya, Bayu jadi nama elemen yang nggak asing di kepala, soalnya aku kan nggak punya temen namanya Agni, Bhumi, Giri, atau Tirta yaaa, mehehehehe. Padahal mah sebenernya nggak mau kalo masuk House of Bayu. Nggak mau karena, nggak keren banget kalo aku pamer pamer Limitless Campus di medsos ada nama Bayu-nya! Bayu kan so yesterday banget. Yaa walaupun sekarang di kantorku ada dua orang yang namanya Bayu. Hahaha!

Pengumuman student ada di house mana dan siapa coach-nya di Wika Tower.
Ki-ka: Mbak Peggy (coach), Audy, Fajar, Diriku, Cherie, Yuza, Qaedi, dan Mbak Hanny (coach). 


Tapi jujur, aku bahagia banget, Lim, masuk di House of Bayu. Karena aku bisa ketemu Mbak Dilla Amran yang jadi coach aku. Aku tanya, kenapa sih dia pilih aku? Dia bilang karena di profil yang aku buat, aku nulis pengen buat proyek semacam Humans of New York-nya Brandon Stanton. Jeng jeng... aku merasa terharu karena ada yang notice sama impianku itu. Meeeennn Mbak Dilla yang jadi co-writer Generasi Langgas-nya Mas Yoris Sebastian dan Business Director-nya OMG Consulting mau jadi coach akuuuu! Daaan setelah dua kali coaching sama Mbak Dilla, aku mengamini, everything happens for a reason. Aku dan Mbak Dilla punya banyak banget pemikiran yang sama, dan banyak fenomena serupa yang sama-sama kita alamin di hidup kita. Aku jadi bersyukur ada di House of Bayu, karena aku bisa ketemu Mbak Dilla. Juga karena aku punya temen-temen se-house yang sangat seru, menyenangkan, keren, dan suportif. Really, I want to make you being my inner circle, gengs Bayu! Semoga kalian juga mau, ya ya? Hehehe.


Foto gaya angin dari House of Bayu, Day 3 di PGN Office 

There she is! Mbak Dilla Amran! 

Segitu aja deh ya kayaknya. Pokoknya salut banget deh, Lim, sama semua kegilaan di kegiatan ini. Kegilaan para coach dan mentor yang rela membagi ilmu dan waktunya, kegilaan para penyedia tempat yang dengan senang hati meminjamkan ruangannya, dan yang pasti kegilaan para panitia yang mau sabar menghadapi student yang kadang suka seenaknya dan nggak tau diri, kayak aku, hehehe. Semoga bahagia selalu mengiri dan Tuhan selalu memberkati kalian semua. Merdeka!


Limitless Campus Family, Day-2, Medco Energy Office 

Limitless Campus Family, Day-3, PGN Office 

---


P.S. selama empat minggu ke belakang dan masih ada enam minggu ke depan, saya sedang mengikuti kegiatan Limitless Campus. Dan surat ini saya buat dalam rangka salah satu improvement untuk Limitless Campus. Secara singkat, di kegiatan ini para students bakalan diajak untuk men-design hidupnya yang harapannya keluar dari Limitless Campus, kita bakal jadi seseorang yang keren, nggak cuma buat diri sendiri, tapi juga bisa berguna buat lingkungan. Selama sepuluh minggu kegiatan, para students didampingi satu coach yang akan membimbing untuk mencapai goal kita. Tiap minggunya juga akan ada kelas yang diisi sama mentor dan guru yang luar biasa dahsyatnya, hahaha. Daaaaan kita juga bakalan dapet temen yang seru abiiiissss. Kegiatan ini, asli berguna banget. You should join this in the next batch! Go check @LimitlessCampus Instagram account, for further excitement ;)

Senin, 06 Juni 2016

#NulisJuga Lagi Edisi Ramadhan



---

It's been a year banget ya ternyata dari terakhir nulis di blog ini. Sooooo many things already happened in a year, both good and bad hahaha. Cuma terlalu males untuk cerita pake tulisan panjang aja di blog ini fufufu. Sebenernya Januari lalu juga ikutan proyek #NulisJuga, tapi nulisnya di tumblr bukan di blogspot. Alesannya karena pengen nulisnya dari handphone aja, daaaan blogspot nggak bisa kepasang di handphone-ku hiks, bisanya tumblr doang hahahaha sepele banget.

Well, #NulisJuga itu awalnya program nulis di blog 30 hari yang dibuat sama Adon, Setyo, dan Lintang (teman-teman Akber Jogja) yang kemudian diikuti oleh saya, Nitha, Valen yang lupa blognya HAHA, dan Lathif (teman-teman Akber Jogja juga) di bulan puasa tahun lalu. Walaupun akhirnya kita pada berhenti di tengah jalan karena males, mehehehehe. Lalu, program ini dihidupkan lagi sama Prima (masih teman Akber Jogja yang blognya lagi nggak bisa dibuka HAHA) Januari lalu. Untuk program yang kedua ini, banyak banget yang ikutan dan pada rajin nulis karena memang perjanjiannya akan dikenakan sanksi berupa posting nama alay di medsos buat yang nggak nulis.

Nah di bulan puasa tahun ini, niatnya sih saya mau menulis lagi selama 30 hari penuh masih dengan hashtag #NulisJuga. Yaaa itung-itung bisa jadi kegiatan mengisi waktu luang biar nggak mati gaya di Commuter Line pas berangkat sama pulang kerja. Maklum sejak awal Januari saya jadi anker, anak kereta, hahaha. Semoga istiqomah dan jalannya lancar bin mulus ya kayak foto jalan tol jakarta (yang tumben banget sepi) di atas.

Jadi siapa yang mau ikutan #NulisJuga edisi Ramadhan? Lumayan lho, buat temen ngabuburit biar nggak bete di rumah atau di kost, daripada nggak ada yang ngajakin kemana-mana dan ngapa-ngapain, ya kaaaan? HAHAHA. Nggak usah pake sanksi-sanksian lah ya. Kesadaran diri sendiri aja, namanya juga udah gede. Sekalian belajar bertanggung jawab sebelum kalian tanggung jawab beneran ngehidupin anak sendiri ntar hahaha!

Yuk? ~

Selasa, 23 Juni 2015

Perasaan atau Penasaran?

source
“Mbak Nila inget sama Doni?” tanya ibuku tiba-tiba saat kami sedang menyiapkan makanan berbuka puasa di dapur.

“Doni anak RT 8 yang temen SD aku dulu, Bu?” balasku.

“Iya, Doni yang adeknya juga temen TK adekmu itu lho.” jawab Ibu.

“Kenapa, Bu?” tanyaku semangat dan tak sabar.

“Minggu lalu Ibunya meninggal, katanya sih Serangan Jantung. Tiba-tiba gitu meninggalnya. Kemaren Ibu nggak sengaja ketemu Bu Ahmad pas beli es kelapa buat buka, terus dia curhat masalah suaminya yang lagi sakit Diabetes eh terus jadi merembet ke cerita Ibunya Doni meninggal. Kasian deh padahal kan umur Ibunya Doni paling juga baru seumur Ibu, nggak tua-tua banget,” ujar Ibuku yang selalu semangat kalau bercerita tentang apapun.

Doni Saputra. Aku bahkan sudah nyaris melupakan nama itu dari pikiranku. Tapi omongan Ibu barusan membangkitkan kenanganku tentang Doni, teman SD-ku yang juga tetangga satu komplekku sebelum aku pindah ke komplek yang sekarang. Doni adalah idola di SD-ku dulu, selain karena wajahnya yang tampan, dia juga lucu dan punya banyak teman dari berbagai kalangan. Ditambah lagi, Doni adalah kiper sepak bola andalan di SD dan di komplek.

Doni Saputra. Anak laki-laki yang suka padaku sejak kelas 5 SD, setidaknya itu yang teman-teman bilang padaku. Anak laki-laki yang beberapa kali menuliskan surat untukku dan aku baca sambil tersenyum malu bersama teman-teman satu geng dulu. Anak laki-laki yang kalau pulang sekolah selalu berjalan di belakangku sambil mengikutiku, hingga memastikan aku membuka pagar rumah lalu ia pergi dan berbalik arah menuju rumahnya. Anak laki-laki yang selalu ingin aku ajak bercerita apa saja namun jika di dia mengajakku bicara aku hanya bisa diam, tersenyum, dan kemudian berlalu.

Doni Saputra. Dia yang membuatku sedih karena selepas SD, kita tidak pernah lagi berada di sekolah yang sama. Dia yang membuatku senang ketika akhirnya saat SMA, aku bertemu dia lagi saat SMA-ku mengadakan kejuaraan sepak bola dan SMA-nya menjadi salah satu peserta. Dia yang membuatku kecewa karena sejak acara itu kami akhirnya bisa mengobrol selama beberapa saat dan menjadi dekat namun kemudian dia menjauh karena tahu saat itu aku sudah memiliki pacar.

Doni Saputra. Bulan Ramadhan. Dua hal itu adalah kombinasi sempurna untuk membangkitkan kenangan, karena selepas SD harapanku bertemu dengan Doni adalah saat Ramadhan, lebih tepatnya saat Sholat Tarawih. Bahkan tak jarang, alasanku untuk Sholat Tarawih di masjid komplek bukan hanya untuk beribadah, tapi juga untuk melihat Doni sholat di masjid yang sama. Pun ketika Sholat Ied, doaku selama beberapa tahun adalah semoga di lebaran tahun ini aku bisa bertemu Doni dan melihat senyumnya. Tentu saja itu aku lakukan lima tahun lalu, sebelum aku pindah ke komplek ini dan kehilangan kabar tentang Doni.

“Mbak Nila? Kok diem aja? Dengerin Ibu cerita nggak sih?” Ibu menepuk pundakku dan membuat lamunanku tentang Doni buyar.

“Hah? Denger kok, Bu. Coba deh nanti Nila whatsapp Andi. Dia kan dari dulu deket sama Doni, mungkin dia tau.” jawabku segera.

“Yaudah itu kolaknya diaduk dulu. Jangan lupa tehnya dibikin, udah hampir buka nih.”

“Iyaaaa, Buuuu.”

---

Malamnya aku bertanya pada Andi tentang kabar Doni. Dia sama sekali tidak tahu tentang Ibunya Doni yang sudah meninggal. Sama denganku, Andi sudah lost contact dengan Doni sejak lulus SMA, kami kehilangan nomer ponselnya, kami tak tahu dia kuliah atau kerja dimana, kami juga tidak ada yang tahu akun media sosialnya.

Kalau sudah begini tinggal penyesalan yang datang. Aku menyesal kenapa dulu tidak kuterima saja cinta monyetnya saat SD. Aku menyesal kenapa dulu tidak kujawab saja sapaannya ketika kami berpapasan. Aku menyesal kenapa saat SMA tidak kuputuskan saja pacarku lalu menjadi lebih dekat dengan dia. Kalau begitu ‘kan mungkin saat ini aku tidak kehilangan kabar tentang Doni.


Tapi aku juga tidak begitu yakin, ketika aku akhirnya bertemu lagi dengan Doni, apakah perasaan itu masih ada? Atau aku sangat ingin bertemu Doni hanya karena penasaran untuk bisa dekat dengannya? Ah mungkin memang benar apa yang orang-orang bilang, cinta yang tak tersampaikan memang selalu membuat penasaran...



#NulisJuga #4

Senin, 22 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun #JKT488!

source
Sebenernya saya lupa kalo hari ini ulang tahun Jakarta. Karena saya udah jarang buka timeline Twitter atau portal berita yang bikin saya jadi Miss Update kaya dulu, hahaha. Tapi karena kebiasaan saya yang selalu denger radio tiap pagi, tadi saya jadi orang pertama di kantor yang inget kalo hari ini ulang tahun Jakarta. Ya bagi saya itu prestasi sih, karena di kantor, saya selalu jadi orang yang kudet (kurang update) kalo masalah obrolan tentang artis Hollywood atau film-film bioskop terbaru hahaha. Iya saya emang spesialisasinya cuma di berita dan gosip dalam negeri, huft.

Ngomongin Jakarta, saya selalu inget obrolan saya sama geng saya jaman kuliah, sebut saja nama gengnya Binal (tapi kita Binal-nya cuma nama sih, prakteknya mah nol muahahaha). Diantara delapan dari kita, cuma saya sama Amel aja yang pengen kerja di Jakarta, yang lainnya mah kalo bisa nggak kerja di Jakarta. Alasannya karena saya dan Amel mau jadi sosialita ibukota hahaha. Ya walaupun pada kenyataannya, Sarah sama Pipit yang bilang nggak pengen kerja di Jakarta malah dapet kerja disini dan Amel yang pengen kerja di Jakarta malah stay kerja di Jogja. Kalo saya? Ya akhirnya cita-cita kerja di Jakarta tercapai sih, tapi yang jadi sosialita ibukota-nya belom kesampean :))))))

Tapi itu dulu. Dulu banget pas saya kuliah awal. Dulu banget pas saya belom ngerasain ninggalin Jogja setelah lima tahun kuliah dan kerja disana itu rasa sakitnya kaya diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Bahkan pas saya keterima kerja di kantor saya sekarang di Jakarta, hal yang bikin saya hampir aja mau ngelepas kerjaan ini ya karena nggak sanggup buat ninggalin Jogja, for good. Hahaha kadang ya saya suka mikir, harusnya kalo kita punya keinginan dan udah nggak pengen lagi, kita harus bilang ke Tuhan kalo udah nggak pengen itu lagi. Contohnya ya kaya kerja di Jakarta ini. Dulu saya pengen banget kerja Jakarta, eh Tuhan Yang Maha Baik mengabulkan keinginan saya walaupun pas saya udah nggak begitu pengen lagi, hehehe.

Jakarta bikin saya yang waktu di Jogja nggak pernah bisa diem ikut acara dan komunitas macem-macem jadi kuper, karena saya jadi males kemana-mana dengan alasan jauh dan macet. Ya walaupun kadang saya masih ikutan acara Akademi Berbagi atau acara Alumni VDMS. Jakarta bikin saya yang waktu di Jogja lebih suka kemana-mana sendiri jadi manja, yang akhirnya bikin saya kalo kemana-mana bisanya cuma nebeng motornya Bayu. Ya walaupun kadang saya juga naik bis atau kereta kalo mau main. Jakarta bikin saya yang waktu di Jogja orangnya fleksibel dan Yes Man (diajak kemana aja mau) jadi monoton banget kegiatan sehari-harinya. Ya walaupun kadang saya juga masih mureh diajak main iya iya aja.

Tapiiii terlepas dari semua kejelekan Jakarta, kota ini udah ngasih saya kerjaan. Karena Jakarta bikin saya bisa belanjain ibu dan jajanin adek-adek setiap bulannya. Karena Jakarta yang walaupun kata orang kejam masih bikin saya mengantungkan cita-cita buat jadi orang kaya, hahaha. Karena Jakarta bikin saya percaya kalo Tuhan itu bukan ngasih apa yang kita mau, tapi apa yang kita butuhin, hehehe.

Selamat ulang tahun yang ke-488, ibukota Jakarta! Semoga segera bisa jadi ibu yang bikin anak-anaknya merasa nyaman ada disana.





#NulisJuga #3