Senin, 28 Mei 2012

Kagum



Di sekitar saya, banyak sekali orang-orang berbakat yang memiliki keahlian di atas orang lainnya. Dan saya selalu kagum dengan mereka. Saya kagum dengan orang yang bisa bermain alat musik, memiliki suara bagus, jago berolahraga, pandai berbicara, atau pintar menggambar. Dari sekian banyak orang berbakat di sekitar saya, ada satu orang yang saya kagumi. Menurut saya, dia memiliki bakat menggambar dan mendesain yang baik. Ya walaupun saya tahu, banyak orang yang kemampuannya diatas dia, tapi setidaknya dia punya bakat yang jauh lebih baik daripada saya, hahaha.

Dia adalah Bayu Ardiyanto, atau saya biasa memanggilnya Bayu. Mahasiswa Fisika Teknik UGM ini saya kenal di UKM yang saya ikuti yaitu SKM UGM Bulaksumur. Saya mengetahui Bayu pintar menggambar karena  dia masuk ke Divisi Produksi Subdivisi Ilustrasi. Pekerjaannya memberi ilustrasi untuk tulisan-tulisan Bulaksumur Pos. Selain itu diluar Bulaksumur, Bayu pun sering dimintai tolong membuatkan poster dalam beberapa event, desain kaos panitia, atau me-layout beberapa proposal.  Yang saya kagumi dari Bayu, dia bisa menggambar dengan cepat dan gambarnya bagus. Dia juga sering saya mintai tolong membuat gambar untuk tugas kuliah, atau membuat desain poster untuk acara kampus, atau me-layout CV saya. Dan semuanya memuaskan (walaupun saya banyak protesnya), hahaha.

Buat yang ingin tahu lebih dalam tentang gambar dan desainnya silahkan buka blog Bayu -> sketsa selo. Dan ini beberapa garapan Bayu buat saya, hehe.

Tugas Manajemen Media, cover majalah yang saya masukkan di proposal
Gambar di kartu ucapan ulang tahun saya
Gambar saya dan Bayu





*tulisan keduapuluhdelapan dalam #31HariMenulis tahun kedua
**tulisannya memang sangat subyektif, maklum dalam rangka 10 bulan saya sama Bayu, hehehe

Minggu, 27 Mei 2012

Marching Band Anak TK


Senang rasanya melihat anak-anak TK pintar bermain Marching Band (eh atau Drum Band?). Sebenarnya sih karena jaman saya TK dulu, tidak pernah ada kegiatan seperti ini di TK saya. Kadang saya juga menyesalkan, mengapa orang tua saya memasukkan saya ke TK itu. TK yang bahkan ikut lomba saja jarang, apalagi mengadakan ekstra kulikuler seperti Marching Band, haha. Walaupun saya tidak kenal dengan anak-anak TK itu, tapi saya bangga meski usia yang masih sekitar 5 tahun, mereka sudah bisa kompak memainkan alat musik. Saya juga salut kepada mayoret (atau field commander?) karena sudah dapat memimpin teman-temannya walaupun umurnya masih sangat muda.

Foto-foto yang ada dibawah ini, adalah foto dari adik-adik TK Aisyah Unggulsari, Kecamatan Lawen, Solo. Adik-adik ini baru saja tampil di acara Inspirational Green Action, acara Kompas Kampus dari teman-teman UNS, Minggu (27/5).







*tulisan keduapuluhtujuh dalam #31HariMenulis tahun kedua

Sabtu, 26 Mei 2012

Pepohonan


Saya selalu suka mengunjungi tempat yang penuh dengan pohon. Rasanya menyenangkan melihat warna hijau ada dimana-mana. Perasaan menjadi tenang dan hati pun menjadi damai. Ah makin memimpikan bisa tinggal di rumah idaman secepatnya. 





*tulisan keduapuluheman dalam #31HariMenulis tahun kedua
**semua foto diambil di UNS

Jumat, 25 Mei 2012

Bersenang-senang Agar Kemesraan Tidak Berlalu

Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan

Setelah Kula Nuwun Party 2009,
Lalu Greeting Camp 2010,
Dan hari ini Komkustik 2011...

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini ingin ku ulang selalu
Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu





*tulisan keduapuluhlima dalam #31HariMenulis tahun kedua
**foto diambil dari twitpict iwok

Kamis, 24 Mei 2012

Saya Rindu...



Saya rindu...
Ketika awal bertemu dan masih tampak malu-malu,
Ketika kita berkenalan lebih dari sekali karena belum saling mengenali,
Ketika Ospek membuat kita sedikit lebih menyatu,
Ketika Kula Nuwun Party kita menjadi mengerti gambaran tentang komunikasi.

Saya rindu...
Ketika masing-masing kita mulai sibuk dengan PPC, Kine, atau Deadline,
Ketika perbincangan tentang dosen sedang diminati,
Ketika kita sudah bingung dengan pemilihan konsentrasi,
Ketika berbicara dengan kakak angkatan di Kepel adalah sarana membangun relasi.

Saya rindu...
Ketika kita tidak lagi menjadi Maba,
Ketika kita kedatangan adik baru dan menyambutnya dengan Greeting Camp,
Ketika Strategis dan Media mulai memisahkan kita,
Ketika bahasan tentang Semester Tiga Masih Jomblo menjadi lebih menarik dibanding materi.

Saya rindu...
Ketika anak Media disibukkan dengan beragam kuliah Jurnalistik yang melelahkan,
Ketika kita lebih tertarik berkegiatan di UKM luar jurusan,
Ketika kuliah sudah mulai ditinggalkan,
Ketika mengobrol dengan anak Strategis terasa menyenangkan karena sudah jarang dilakukan.

Saya rindu...
Ketika sedikit tidak percaya kembali kedatangan adik baru lagi,
Ketika tugas praktek sudah mulai diberikan,
Ketika menjadi semangat mengerjakan tugas kelompok,
Ketika berkontribusi di Komako UGM dan memproduksi Kepel News.

Tentu saja akan bertambah lagi kerinduan-kerinduan yang ada,
Tentang kehidupan semester 6,
Tentang Kuliah Kerja Nyata,
Tentang Skripsi,
Tentang Pendadaran,
Tentang Wisuda,
Dan tentang hal-hal lain yang saya alami di Komunikasi.





*tulisan keduapuluhempat dalam #31HariMenulis tahun kedua

Rabu, 23 Mei 2012

Pahlawan Sederhana di Sekitar Kita

Foto Citra yang saya ambil di facebook

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Namun jika diartikan dengan bahasa sehari-hari, menurut saya pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa untuk hidup orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita beberapa kali menemukan sosok pahlawan baik secara sadar maupun tak sadar. Bahkan terkadang orang yang kita sebut pahlawan ini melakukan hal yang sederhana tapi sarat makna bagi kita.
Contoh pahlawan dengan perbuatan yang sederhana muncul pada film Forest Gump. Menurut saya sosok Jenny adalah pahlawan bagi Forest dalam cerita ini. Walau hanya berkata “Run, Forest, run!” hal tersebut berakibat Forest menjadi seorang pemain football yang sukses, juga menjadi seorang tentara di Perang Vietnam yang mendapat penghargaan dari Presiden Lyndon Baines Johnson.
Pahlawan seperti itu juga hadir di kehidupan saya. Ia bukanlah kedua orang tua, guru, atau sahabat terdekat. Saya menunjuk satu orang teman sebagai pahlawan di hidup saya. Ia seorang gadis berkerudung yang pendiam. Saya memang tak terlalu dekat dengannya, tapi ketika saya bercerita ia selalu menanggapi omongan saya dengan  tutur kata yang lemah lembut dan memberikan semangat. Ia adalah orang yang mengubah pemikiran saya untuk belajar di bidang komunikasi. Pahlawan sederhana saya bernama Citra Prabaningrum.
Suatu siang saat jam istirahat, saya dan beberapa teman sedang membahas tentang jurusan mana yang akan kami pilih saat kuliah. Maklum saja, perbicangan tentang kuliah adalah bahasan paling populer diantara kami yang berada di bangku kelas tiga SMA. Citra, dengan wajah polosnya berkata, “Kamu itu cocok Nis masuk komunikasi (Jurusan Ilmu Komunikasi, -Red).  Saat itu saya yang sedang bingung pun langsung menanggapi serius omongan Citra. Lalu saya mulai mencari segala informasi tentang Jurusan Ilmu Komunikasi. Sejak saat itu saya mulai mantap memilih Ilmu Komunikasi sebagai pilihan jurusan ketika kuliah. Hasilnya, saya pun diterima di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2009. Dan sampai saat ini saya tidak pernah menyesal memilih jurusan ini, justru sangat menikmatinya.
Memang yang Citra lakukan adalah hal sederhana. Namun bagi saya, ia telah memberikan pencerahan di kala saya sedang membutuhkan petunjuk. Hal tersebut juga yang mungkin dialami Forest atas kata-kata Jenny yang selalu menjadi motivasi ketika melakukan berbagai kegiatan.
Kata pahlawan kini telah mengalami perluasan makna. Tak hanya sebatas seorang yang telah membela negara saja. Dengan perbuatan sederhana, setiap orang dapat menjadi pahlawan bagi orang lainnya. Sesederhana ketika Citra berkata kepada saya. Juga yang Jenny lakukan saat memberi semangat kepada Forest.





*tulisan keduapuluhtiga dalam #31HariMenulis tahun kedua 
**tulisan ini dulu saya buat dalam rangka proyek menulis tentang pahlawan  yang digagas Mas Aldi dan Mbak Rifki

Selasa, 22 Mei 2012

Rumah Idaman


We live on a mountain
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
Or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
It's real early morning
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
Imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
When it lands
Will my eyes
Be closed or open?

Kombinasi lagu Hyperballad-nya Bjork yang kemudian dinyanyikan oleh Mocca, dan foto rumah dekat kost, membuat saya mengkhayal tentang rumah saya di masa depan. Di dalam benak saya, rumah idaman itu terletak di daerah pegunungan dengan halaman yang luas dan penuh dengan tanaman hijau. Rumahnya tak perlu besar dan tingkat. Cukup 3 kamar saja, untuk saya dan suami serta kedua anak. Dengan perabotan yang tidak banyak, saya ingin membuat anak-anak saya nantinya dapat bebas berlari dan bermain di dalam rumah.  Saya juga akan membuat langit-langit yang agak tinggi supaya sirkulasi udara dapat keluar masuk dengan baik, sehingga tidak akan ada pendingin ruangan yang tertempel di dinding. Rumah saya ini juga akan dilapisi dengan kayu, agar lebih berseni.

Rumah itu harus memiliki halaman yang lebih luas dari bangunan utama. Berhubung saya tidak terlalu menyukai bunga, saya akan menanam pohon buah seperti Mangga, Jambu, dan Rambutan sebagai gantinya. Saya pun akan menanam tanaman bumbu dapur seperti cabai, jeruk nipis, kunyit, jahe, dan serai. Tidak ketinggalan, saya akan membangun sebuah gazebo untuk berkumpul di sore hari. Saya pun akan menaruh mainan anak-anak seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit, mengingat saat kecil saya sangat menyukai tiga permainan ini. Saat akhir pecan tiba, saya ingin mengajak suami dan anak untuk tidur di dalam tenda yang dibangun di halaman rumah. Ketika malam, kami menggelar tikar dan tidur terlentang menghadap bintang sambil membicarakan kegiatan yang telah dilakukan selama sepekan.

Ah sungguh, lagu Hyperballad ini membuat pikiran saya jauh melayang. Mengawang tentang rumah idaman di masa depan. Juga mendambakan kehidupan yang tentram. Tapi tidak mengapa, karena saya bebas bermimpi kan? Siapa tahu, Tuhan akan memeluk mimpi saya, dan suami masa depan saya akan membantu mewujudkannya :D





*tulisan keduapuluhdua dalam #31HariMenulis tahun kedua