Rabu, 02 Mei 2012

Menjadi Reporter itu (Tak) Mudah


-->
Foto diatas diambil ketika saya mengikuti event Transmania Broadcasting Camp (TBC) 2012 pada 21-22 April lalu. Event yang berisi workshop dan outbound ini, diselenggarakan oleh tim Public Relation Trans TV dibantu anak-anak Transmania Jakarta. Sebelumnya, Transmania adalah sebuah komunitas yang dibentuk untuk para pemirsa setia Trans TV. Dan TBC 2012 sendiri adalah acara dimana 100 orang Transmania berusia muda dari seluruh Indonesia, dikumpulkan di Jakarta. Saya tidak akan bercerita tentang dua hari saya berada di event tersebut. Tapi saya akan bercerita tentang pengalaman lain yang ternyata saling berhubungan dengan keikutsertaan saya di TBC 2012.

Beberapa waktu lalu, Korps Mahasiswa Komunikasi (Komako) bekerjasama dengan SCTV mengadakan sebuah workshop dan lomba news presenter atau reporter berita. Hadiahnya cukup menggiurkan, yaitu mendapatkan intensif training selama satu minggu di SCTV. Saya, sebagai seseorang yang tertarik menjadi reporter tak berpikir panjang untuk mengikutinya. Terdapat dua tahapan lomba. Tahap pertama audisi di depan ketiga juri dari SCTV, lalu tahap kedua terpilih lima orang untuk tampil sebagai reporter di depan seluruh peserta workshop.

Selama lima finalis unjuk gigi, saya dan Nesti (Kom ’09) selalu mengomentari penampilan para finalis. Mereka kurang tenang lah, artikulasinya tak jelas lah, terlalu banyak gerak lah, salah mengucapkan kalimat lah, dan hal-hal yang serba kurang lainnya. Saya dan Nesti dengan mudahnya mengucapkan semua itu, walaupun kami sadar belum tentu kami bisa seperti mereka ketika berada di depan audience.

Kejadian yang dialami para finalis tersebut akhirnya terjadi pada saya saat mengikuti TBC 2012 kemarin. Pada sesi workshop News Presenting oleh Aditya Wardhani dan Novita Putri, reporter Trans TV, saya diberi kesempatan untuk maju menjadi reporter bersama keempat teman di depan seluruh peserta workshop. Entah karma atau bukan, hal-hal serba kurang yang saya ungkapan dulu kepada finalis lomba di jurusan, berbalik kepada saya. Sebenarnya saya telah menguasai materi, hanya saja saya tak pandai menguasai diri. Hasilnya, penampilan saya buruk. Saya kurang tenang, artikulasi saya tak jelas, saya melakukan terlalu banyak gerakan tangan, dan beberapa kali saya salah mengucapkan kalimat.

Sungguh saya merasa malu saat itu. Bagaimana bisa saya menyia-nyiakan kesempatan menjadi reporter yang baik di depan reporter profesional? Tapi dunia tak berkahir sampai disitu kan? Saya masih percaya pepatah kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Setidaknya saya telah mencoba menjadi reporter di depan banyak orang. Meski hasilnya tak sesuai dengan keinginan. Dan sebisa mungkin saya tak lagi mencela kekurangan orang lain, kalau saya bahkan tak bisa menyamai kemampuan orang tersebut.






*hari kedua #31HariMenulis tahun kedua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar