Halaman

Labels

Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

Surat untuk Limitless Campus




Halo Limitless Campus!

Apa kabar? Kalau lagi nggak baik-baik aja juga nggak apa-apa, kok. Kadang kita emang harus merasakan sakit buat tahu betapa enaknya sehat, hahahaha sok bijak, ye! Eh iya, mau kenalan dulu nih sebelumnya tentang diriku, Lim. Nyebut Lim, berasa manggil Junior Liem suaminya Putri Titian, ya? Hahahaha! Nggak apa-apa lah ya, biar lebih akrab, hihihi. Jadiiii, aku ini Annisa Ika Tiwi, biasa dipanggil Nisa, ada juga yang panggil Anis atau Tiwi, dan kalau di rumah dipanggilnya Icha. Aku sih lebih seneng dipanggil Cantik walau belom pernah ada yang panggil itu. Yak, silakan tertawa berjamaah! Hahaha. Aku ini seorang Pisces, Sanguinis, dan ESFP yang secara garis besar kepribadiannya itu ekstrovert, sangat perasa, suka sok sibuk karena mengiyakan semua peluang, suka kerja keras akan hal apapun, pelupa, berantakan, daaaan seneng banget jadi pusat perhatian, hehehe. Dari dulu sampai sekarang, cita-cita terpendamku adalah jadi artis, walau nggak tahu gimana cara wujudinnya, haha. Sehari-hari aku berprofesi sebagai Social Media Specialist lalu kadang di akhir pekan jadi kru Wedding Organizer.




Tahu nggak, alasan kenapa aku mau ikutan kegiatanmu ini, Lim? Karena mau balas dendam! Hahahaha! Ceritanya aku pernah baca sebuah quotes dari akun Instagram @thegoodquote, “The best revenge is to improve yourself.” Ya maklum, anaknya suka kehilangan semangat jadinya yang di-follow akun-akun quotes motivasi, mehehehe. Tapi diriku bukan penggemarnya Mario Teguh kok. Cuma suka ngikutin gosipnya aja di @lambe_turah. Hahahahaha, anywaaaayyy back to the revenge. Iya, aku mau balas dendam. Balas dendam ke diriku sendiri yang sampai di umur hampir 25 tahun ini, belom berbuat banyak hal berguna, nggak cuma untuk masyarakat tapi juga untuk diri sendiri. Balas dendam karena iri liat temen-temenku di umur yang sama udah dapet beasiswa kuliah ke luar negeri, udah bisa jadi manajer di perusahan tempat dia kerja, udah sukses bikin start up-nya sendiri, dan pencapaian-pencapaian lain. Aku mau balas dendam dengan buktiin, aku juga bisa kok berbuat hal-hal keren kayak mereka. Biasalah, aku anaknya iri-an banget, hahaha. Tapi iri untuk hal yang baik, boleh kan, Lim?


Thanks to Lintang, Ibu Kepala Sekolah Limitless Campus, temenku KKN (Kuliah Kerja Nyata) jaman kuliah dan temen komunitas Akademi Berbagi Jogja, yang udah ngasih informasi tentang kegiatan ini. Iya, di tengah kegalauan yang kata orang bahasa kerennya quarter life crisis, Tuhan ngasih aku solusi dengan kehadiran Lintang, hahaha. Suatu hari di sebuah kumpul geng KKN dalam rangka jenguk temen yang abis melahirkan, Lintang bilang kalo dia dan tim di kantornya lagi bikin sebuah kegiatan yang namanya Limitless Campus. Dari cerita Lintang, aku langsung kepo di medsos tentang kegiatan ini. Daaan aku ngerasa kalau Limitless Campus itu aku banget. Bahkan aku sampe turn on notification di Instagram biar pas pendaftaran Limitless Campus dibuka aku langsung daftar, hahaha. Bangga juga sih, akhirnya video interview tanpa persiapan sebagai syarat masuk Limitless Campus, di-upload di Instagram buat jadi contoh dan diliat banyak orang, hihihi. Dasar banci tampil! 


The one and only, Lintang Gustika! 

Aku seneng banget lho, Lim, pas aku diumumin lolos jadi 61 calon student dan disuruh dateng ke Soehana Hall, The Energy Building, 5 November yang kemudian diundur jadi 12 November, hehehe. Alhamdulillah puji Tuhan! Rasanya luar biasa senengnya, ketemu sama temen-temen baru dengan value dan energi yang sama. Sebenernya, perasaan seneng kayak gini bukan yang pertama sih buat aku. Perasaan ini sama rasanya pas aku ikut jadi Relawan Pengajar di Kelas Inspirasi Jakarta. Juga, perasaan yang sama tiap kali bikin kelas di Akademi Berbagi Jogja jaman kuliah dulu. Tapi ya, Lim, bisa dibilang aku tuh semacam ketagihan dengan rasa seneng kayak gitu. Rasa seneng ketemu teman baru, rasa seneng dapat ilmu baru, dan rasa seneng ada di lingkungan baru yang semuanya aku yakin bisa bikin aku balas dendam, hehehe. Semakin seneng karena akhirnya aku adalah satu dari 33 student di Limitless Campus batch 1. Yeay!


Day-0 bersama 61 calon student di Soehana Hall, The Energy Building 

Day-1 bersama 33 student di Wika Tower 

Oh iya, ada satu lagi deh kenapa aku pengen gabung kegiatanmu ini, Lim, selain balas dendam. Apalagi kalau bukan karena Rene Suhardono! Hahaha! Aku udah ngikutin Rene dari jaman buku Your Job is Not Your Career. Bahkan pas Rene ngisi di kelas Akber Jogja, aku ngajuin diri buat jadi MC. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah biar Rene tau aku hahaha. Dan itu berhasil, lho. Beberapa tahun kemudian, pas aku datengin acara di Comma, aku bilang Rene kalau aku anak Akber Jogja yang dulu jadi MC. Terus Rene bilang, "Ah iya gue inget lo, Sob! Apa kabar?" Rasanya seneng banget, cooooy. Yaaa walaupun nggak tau ya Rene jujur apa enggak. Tapi aku percaya kok kalo Rene jujur, mehehehehe. Setelah masuk Limitless Campus dan ketemu banyak mentor dan coach, ternyata idolaku ganti. Eh bukan ganti deh tapi nambah. Aku sekarang jadi mengidolakan Mas Didi Mudita, hahaha. Pandji Pragiwaksono dan Indra Bekti aja di-training sama Mas Didi. Kebayang lah betapa kerennya doi, hihihi. Suka banget aja sama semua yang Mas Didi omongin, yaa nggak semuanya sih hehe. Mas Didi tuh suka ngomong ake guyonan-guyonan yang lucu abis tapi malah jadi kena di pikiran.

Nah, ada ceita lagi nih, Lim. Pas aku pamit di Soehana Hall tanggal 12 November, Rene tanya aku, “Mau masuk house mana?” Eng... jujur bingung mau jawab apa. Sebelumnya kan cuma dijelasin sekilas tentang kita akan dibagi jadi lima house yaitu Agni (api), Bhumi (bumi), Bayu (angin), Giri (kayu), dan Tirta (air), tanpa aku tahu arti selanjutnya, hehehe. Terus, aku cuma asal jawab aja yang terlintas di pikiran. "Kayaknya pengen masuk Bayu deh, Rene." "Loh emang kenapa?" "Ya kayaknya gue anaknya suka kesana-kesini kayak angin." Daaaan emang bener kata Nabi Muhammad SAW yaaa, omongan adalah doa! Di minggu kedua kelas di Wika Tower tanggal 19 November, pas para students dibagi kelompok (house) berdasarkan kecocokan coach dan student, aku dapet House of Bayu doooong. Padahal yaaa paginya di hari itu aku udah bilang ke Lintang jangan sampe aku masuk House of Bayu hahaha. Jadi gini Lim, Bayu itu nama mantanku hahahahaha. Makanyaaaa pas Rene tanya, Bayu jadi nama elemen yang nggak asing di kepala, soalnya aku kan nggak punya temen namanya Agni, Bhumi, Giri, atau Tirta yaaa, mehehehehe. Padahal mah sebenernya nggak mau kalo masuk House of Bayu. Nggak mau karena, nggak keren banget kalo aku pamer pamer Limitless Campus di medsos ada nama Bayu-nya! Bayu kan so yesterday banget. Yaa walaupun sekarang di kantorku ada dua orang yang namanya Bayu. Hahaha!

Pengumuman student ada di house mana dan siapa coach-nya di Wika Tower.
Ki-ka: Mbak Peggy (coach), Audy, Fajar, Diriku, Cherie, Yuza, Qaedi, dan Mbak Hanny (coach). 


Tapi jujur, aku bahagia banget, Lim, masuk di House of Bayu. Karena aku bisa ketemu Mbak Dilla Amran yang jadi coach aku. Aku tanya, kenapa sih dia pilih aku? Dia bilang karena di profil yang aku buat, aku nulis pengen buat proyek semacam Humans of New York-nya Brandon Stanton. Jeng jeng... aku merasa terharu karena ada yang notice sama impianku itu. Meeeennn Mbak Dilla yang jadi co-writer Generasi Langgas-nya Mas Yoris Sebastian dan Business Director-nya OMG Consulting mau jadi coach akuuuu! Daaan setelah dua kali coaching sama Mbak Dilla, aku mengamini, everything happens for a reason. Aku dan Mbak Dilla punya banyak banget pemikiran yang sama, dan banyak fenomena serupa yang sama-sama kita alamin di hidup kita. Aku jadi bersyukur ada di House of Bayu, karena aku bisa ketemu Mbak Dilla. Juga karena aku punya temen-temen se-house yang sangat seru, menyenangkan, keren, dan suportif. Really, I want to make you being my inner circle, gengs Bayu! Semoga kalian juga mau, ya ya? Hehehe.


Foto gaya angin dari House of Bayu, Day 3 di PGN Office 

There she is! Mbak Dilla Amran! 

Segitu aja deh ya kayaknya. Pokoknya salut banget deh, Lim, sama semua kegilaan di kegiatan ini. Kegilaan para coach dan mentor yang rela membagi ilmu dan waktunya, kegilaan para penyedia tempat yang dengan senang hati meminjamkan ruangannya, dan yang pasti kegilaan para panitia yang mau sabar menghadapi student yang kadang suka seenaknya dan nggak tau diri, kayak aku, hehehe. Semoga bahagia selalu mengiri dan Tuhan selalu memberkati kalian semua. Merdeka!


Limitless Campus Family, Day-2, Medco Energy Office 

Limitless Campus Family, Day-3, PGN Office 

---


P.S. selama empat minggu ke belakang dan masih ada enam minggu ke depan, saya sedang mengikuti kegiatan Limitless Campus. Dan surat ini saya buat dalam rangka salah satu improvement untuk Limitless Campus. Secara singkat, di kegiatan ini para students bakalan diajak untuk men-design hidupnya yang harapannya keluar dari Limitless Campus, kita bakal jadi seseorang yang keren, nggak cuma buat diri sendiri, tapi juga bisa berguna buat lingkungan. Selama sepuluh minggu kegiatan, para students didampingi satu coach yang akan membimbing untuk mencapai goal kita. Tiap minggunya juga akan ada kelas yang diisi sama mentor dan guru yang luar biasa dahsyatnya, hahaha. Daaaaan kita juga bakalan dapet temen yang seru abiiiissss. Kegiatan ini, asli berguna banget. You should join this in the next batch! Go check @LimitlessCampus Instagram account, for further excitement ;)

Senin, 22 Juni 2015

Kemping Ceria di Gunung Papandayan

Selalu ada yang istimewa di tiap momen pertama. Pertama kali naik pesawat, pertama kali ikutan jadi kru teater, pertama kali sidang pendadaran (pertama dan terakhir sih kalo ini haha), dan pertama kali naik gunung! Hahahaha.
Banyak sih yang ‘ngece’, “Pacarmu kan anak gunung masa kamu belom pernah naik gunung?” Hahaha sebenernya udah pengen naik gunung dari jaman kuliah sih. Bahkan sempet punya semacam janji sebelum pindah dari Jogja harus udah pernah naik gunung. Tapi ya gitu, saya ini kan terkenal banget anak LMC (Last Minute Cancel, hiks), jadi mau direncanain gimana juga tetep nggak pernah kesampean.

Dan akhirnyaaaa obrolan iseng sama Bayu (ceritanya pacar saya) yang bilang dia mau naik gunung sama temen-temennya menggugah saya (halah opo tho Nis bahasanya) untuk bilang, “Aku mau ikutttttt!” hahaha. Jadilah saya dan Bayu dan temen-temennya (Ade, Rizal, Binar, Mufid, Suwasno) naik Gunung Papandayan 29-30 Mei kemaren, modal pinjem barang-barang naik gunung sama Indah yang temennya Bayu juga tapi nggak ikutan naik hahaha.

Kata Bayu sih itu gunung pendek, naiknya nggak jauh beda sama naik Gunung Nglanggeran. Tapi kenyataannyaaaaaa, jalan sedikit aja udah ngos-ngosan. Hahahahaha dasar Annisak mau naik gunung nggak pake persiapan olahraga dulu ya jadinya gitu, jalan nggak sampe setengah jam udah bolak balik ngos-ngosan. Oke cukup prolog yang panjangnya hahaha.

Harusnya saya sama Bayu berangkat bareng Ade, Mufid, sama Suwasno Jumat jam 9 malem dari Pasar Jumat. Terus Rizal sama Binar berangkat dari Binar. Nanti kita ketemunya di Terminal Garut sebelum Subuh. Tapi yaaa karena kerjaan saya yang nggak bisa diprediksi kapan lembur dan kapan pulang cepetnya (huft!), akhirnya saya sama Bayu baru berangkat dari Kebon Jeruk jam 9 malem naik asal bis yang ke arah Kampung Rambutan. Kita sampe Kampung Rambutan jam 11 terus kita naik bis yang ke arah Garut. Dan ternyata udah banyak banget loh pendaki yang mau naik Gunung Papandayan (dan sekitarnya) di Kampung Rambutan hahaha.

Jam 4 pagi saya sama Bayu sampe Terminal Garut dan ketemu sama anak-anak lain yang udah lebih dulu nyampe. Dari Terminal Garut kita nyarter angkot isi 15 orang sampe Cisurupan. Terus nyambung lagi naik pick up buat sampe ke Camp David atau Pos 1. Total perjalanan dari Terminal Garut sampe Camp David dua jam (satu jam naik angkot plus satu jam naik pick up) ditambah satu jam buat sholat Subuh dan nunggu pick up di Cisurupan.

Cisurupan
Sekitar jam 7 kita sampe Camp David. Disana kita sarapan sambil leha-leha sebelum naik Gunung Papandayan. Jam 8 kita naik ke atas dan sekitar jam 11 kita udah sampe ke Pondok Saladah, tempat kita nge-camp. Selama tiga jam perjalanan, ada tiga jalur berbeda yang kita lewatin. Pertama jalur batu-batu karena di awal kita naik kita langsung ketemu sama Kawah Papandayan yang bau belerengnya menyengat banget. Jalur kedua jalanan panjang lurus yang kanannya jurang dan kirinya tebing. Terus jalur ketiga ini yang paling susah karena jalannya sempit dikelilingin hutan dan naik turun bikin kaki sakit, hahahaha.

Camp David. Yang kiri warung tempat sarapan, yang tengah Gunung Papandayan, yang kanan mas-mas lagi duduk.
Saya dan Binar di Kawah Papandayan. Buat foto disini ngantri loh hahaha, karena banyak yang ke Gunung Papandayan cuma sampe kawahnya aja.
Yang kanan jalur pertama, yang kiri jalur kedua, jalur ketiganya nggak sempet difoto hahaha.
Ada loh yang ke Papandayan naik sepeda. Duh saya yang jalan aja ngos-ngosan, ini lagi harus gowes di jalanan nanjak hahaha.
Sebentar-bentar istirahat, sebentar-bentar foto, sebentar-bentar makan hahaha.
Karena emang niatnya kemping ceria dan nggak mau sampe puncak, jadinya sampe Pondok Saladah dan abis diriin tenda, kita cuma nyantai aja sambil masak mie goreng empat yang dimakan berenam hahaha. Abis pada sholat Zuhur, saya sama Binar, cewek-cewek yang baru pada pertama kali naik gunung ini, langsung tidur hahahaha. Terus kita bangun jam setengah 4 sore buat main-main liat sunset di Hutan Mati. Perjalanan ke Hutan Mati cuma sekitar satu jam aja. Hutan Mati itu bagus banget deh. Isinya pohon-pohon yang udah mati dan tinggal ranting-ranting aja, bekas Gunung Papandayan meletus taun 2002 katanya.

Bayu, Mufid, Rizal, Suwasno bikin tenda gede buat cowok-cowok. Ade bikin tenda kecil buat cewek-cewek. Binar jagain tas. Kalo saya? Cuma foto-foto aja hahaha.
Hutan Mati.
Kelar sunset, kita turun balik lagi ke tenda buat bikin api unggun dan masak makan malem. Terus dilanjut tidur sampe pagi. Besok paginya, kalo orang-orangnya sih ngejar sunrise di Tegal Alun (masih atasnya Hutan Mati), tapi karena kita judulnya Kemping Ceria jadinya ya tidur aja sampe Subuh, cuma Suwasno aja sendirian jalan ke Tegal Alun hahaha. Bayu, Ade, Rizal sih pada liat sunrise di deketnya Pondok Saladah, tapi nggak ngajak-ngajak karena saya sama Binar lama antri kamar mandi dan dicariin nggak ketemu huhuhu.


Alhamdulillah ada kamar mandinya, hahaha. Lumayan bersih lagi. Tadinya udah mikir, kalo pipis di gunung gimana ya caranya? Eh ternyata ada kamar mandi pffttt.
Sunrise yang saya bisa liat cuma di kamera Bayu, hiks.
Nggak dapet sunrise tapi dapet liat matahari pagi hahaha. 
Binar, saya, dan Edelweiss yang belum mekar. Saya kira Edelweiss itu gede-gede, ternyata kecil yaaa hahaha.
Abis pada jalan-jalan pagi masing-masing kita masak terus beres-beres tenda terus turun deh hahaha. Kita turun sekitar jam setengah 10, sampe Pos 1 kita naik pick up lanjut angkot (kaya berangkat) sampe ke Terminal Garut. Di terminal sekitar jam 2-an, kita pada ganti baju, sholat, makan, dll terus akhirnya jalan pulang ke Jakarta dan Bandung sekitar jam 4.

Masak siang hari Sabtu - masak malem hari Sabtu - masa pagi hari minggu - makanan hari Minggu. Ternyata bener loh masakan di gunung itu lebih enak muahahaha.
Atas pas baru dateng: Bayu-Rizal-saya-Ade-Binar-Suwasno-Mufid.
Bawah pas mau pulang: Suwasno-Mufid-Bayu-saya-Ade-Binar, si Rizal pulang duluan karena ngejar kerja Minggu sore haha.
Atas: rombongan pas berangkat, di depan pintu masuk Gunung Papandayan.
Bawah: rombongan pas pulang, di pick up.
Karena satu angkot dan pick-up harus ber-15, jadinya kita selalu bareng sama rombongan lain.

Lama perjalanan:
  1. Kebon Jeruk – Kampung Rambutan: 2 jam
  2. Kampung Rambutan – Terminal Garut: 5 jam
  3. Terminal Garut – Cisurupan: 1 jam
  4. Cisurupan – Camp David/Pos 1: 1 jam
  5. Camp David – Pondok Saladah: 3 jam
  6. Pondok Saladah – Hutan Mati: 1 jam
  7. Pondok Saladah – Tegal Alun: kurang lebih 2 jam (katanya sih hahaha)
  8. Pondok Saladah – Puncak kurang lebih 3 jam (katanya juga hahaha)

Biaya Perjalanan (belum termasuk makan):
  1.     Kebon Jeruk – Kampung Rambutan: 10.000
  2.     Kampung Rambutan – Terminal Garut: 55.000
  3.     Terminal Garut – Cisurupan: 20.000
  4.     Cisurupan – Camp David/Pos 1: 20.000
  5.     Masuk Gunung Papandayan: 8.000
  6.     Jalan pulang: harganya sama kaya berangkat
  7.     Untuk makanan kalo males bawa di Gunung Papandayan banyak kok yang jual makan. Ada lontong sayur, mie rebus, bahkan ada tahu bakso hahaha. Harganya juga standar kok nggak mahal-mahal banget.




#NulisJuga #2

Sabtu, 02 Mei 2015

Sore Selo di Ancol

Selo.

Kalo di Jogja, kata ini sih artinya saat kita nggak punya kegiatan apapun atau punya waktu luang yang banyak. Bisa juga ditujukan buat orang-orang yang kurang kerjaan dan akhirnya ngelakuin hal-hal yang di luar kebiasaan sehari-hari.

Pas masih di Jogja, kalo lagi selo atau kegiatan selo yang suka saya lakuin sih ngajakin orang-orang buat jalan-jalan ke tempat yang saya belom pernah datengin. Saya pernah iseng motoran dan tau tau udah sampe di Selo, Boyolali aja. Atau pernah sepedaan dari Jalan Kaliurang km 5 sampe Goa Selarong di Bantul yang kalo naik motor kesana satu jam lebih. Atau juga pernah mobilan subuh subuh ke Pantai Parangtritis niatnya mau liat sunset eh karena ujan jadinya malah sarapan di Kotagede. Pernah juga dini hari abis taun baruan foto-foto di Underpass Jombor yang waktu itu baru aja selesai dibangun.

Sejak pindah ke Jakarta, saya udah jarang sih punya waktu selo dan ngelakuin hal selo. Senin-Jumat kerja, kalo Sabtu-Minggu tuh mager (males gerak) banget dan bawaannya pengen doing nothing aja di rumah hahaha.

Tapi ceritanya kemaren hati dan pikiran lagi suntuk banget ditambah long weekend hari buruh dan nggak ada yang bisa diajak main. Jadilah abis makan di SS (iya Spesial Sambal, tempat makan yang dituju kalo kangen Jogja dan kangen makan banyak dengan harga terjangkau, hahahaha) dan punya waktu selo tapi bingung mau ngapain (tadinya mau ke Pasar Santa tapi nggak jadi karena saya udah pernah, hahahaha) akhirnya saya selo banget main ke Ancol. Bener-bener selo karena cuma ke pantainya doang, ga ke Dufan atau Gelanggang Samudera atau Atlantis. Tadinya mau naik Gondola sih, tapi batal karena mahal bayar 50ribu hahahaha.

Gerbang Masuk Ancol
Monumen Ancol

Disana ya saya cuma foto-foto (ala ala anak jaman sekarang biar eksis di instagram), naik perahu harga 10 ribu, jalan di jembatan panjang yang biasanya dipake buat prewed atau syuting film berantem, sama pipis di kamar mandi, eh sama sholat juga deh, hahahaha. Abis itu yaudah pulang, pake drama nyasar di Tanjung Priok segala dan lewatin Kelapa Gading, Cempaka Putih, Pulo Gadung sambil ujan-ujanan. Padahal kalo kata bapak saya dari Tanjung Priok ada jalan pintas ke Bekasi yang ga usah pake muter-muter sampe daerah-daerah itu segala. Yaudahlahya, namanya juga lagi selo, hahahaha.

Perahu Harga Sepuluh Ribu
Di dalem perahu. Adek ini fotogenic banget deh, selama di perahu foto-foto mulu, haha.
Beach Pool, yang selalu hits dari dulu. Kalo jaman liburan apalagi lebaran, pasti banyak banget orang dari segala penjuru Jakarta numplek disini.
 
Baywatch ala Indonesia. Bapak tukang jaganya rajin banget deh neriakin adek-adek yang berenangnya mulai nggak ikut aturan, misal terlalu ke tengah lah atau nggak ada orangtuanya lah. Bagus sih dijagain, tapi bikin berisik dan bikin anak-anak jadi nggak nyaman berenangnya, hahaha.
Jembatan panjang yang biasa buat prewed atau syuting film berantem, hahaha.
Apartemen di Ancol. Penasaran, yang punya apartemen ini orang asli Jakarta apa turis yang beli biar sekalian liburan di Ancol ya? hahaha.

Gitu lah, jalan-jalan mah mending dadakan aja. Kalo direncanain malah nggak jadi-jadi, hahaha.

Ini uang yang kemaren dikeluarin buat ngisi keseloan:
- Tiket masuk Ancol: 25.000
- Tiket motor: 15.000
- Beli minum Frestea: 10.000
- Naik perahu: 10.000
- Bensin: 20.000


N.B: Tiket motornya patungan sih, terus bensinnya juga dibayarin hahaha :))


Taman Impian Jaya Ancol, ya lumayan lah buat nambah-nambah jumlah taman di Jakarta walaupun untuk sebuah taman harganya kemahalan, hahaha.

Sampai jumpa di kegiatan selo dan di waktu yang selo dengan orang yang selo berikutnyaaa, hahaha...


Temen Selo ke Ancol

N.B. lagi: duh maap kalo fotonya banyak yang nge-blur, maklum hape murah hahaha :))

Jumat, 20 Februari 2015

(P) I N D A H

Ada indah di tiap pindah, tapi move on-nya itu lho yang susah...

Hampir semua orang nggak suka sama yang namanya perpisahan. Kenapa sih harus ada pertemuan kalo akhirnya harus ada perpisahan? Jawabannya untuk menciptakan kenangan. Kalo nggak ada pertemuan, nggak akan ada cerita. Dan biasanya cerita itu akan dikenang kalo sudah ketemu sama perpisahan. Kenapa harus pisah? Biar kalo pas ketemu lagi, ceritanya bisa tambah seru. Terus nyiptain kenangan baru lagi deh. Kan emang yang namanya perpisahan itu adalah awal dari pertemuan yang lebih indah. Hahaha ngomong apa saya ini? :))

Di dalam hidup, kita pasti pernah ngerasain perpisahan. Yang paling simple sih perpisahan pas lulus sekolah. Temen-temen jaman TK, nggak semuanya didaftarin orang tuanya di SD yang sama kan? Temen-temen jaman SD, nggak semuanya mau masuk SMP yang sama kan? Temen-temen jaman SMP, belom pasti diterima di SMA yang sama kan? Temen-temen jaman SMA, belom tentu pengen masuk di universitas dan jurusan yang sama kan? Apalagi temen-temen jaman kuliah, nggak mungkin semuanya lolos seleksi di perusahaan yang sama kan? Nah seenggaknya orang-orang twenty something gini udah pernah ngerasain seenggaknya empat kali perpisahan, hahaha.

Tiap saya ngeluh sedih karena pisah, ibu saya selalu bilang, “Halah paling awalnya aja kamu sedih, lama-lama juga jadi seneng karena ketemu baru. Jangan lebay deh.” Hahaha tapi emang bener sih apa kata ibu saya. Awalnya aja kita (atau saya) ngerasa sedih. Dan kaya kata orang-orang, obatnya sedih itu cuma waktu. Lama-lama sedih karena pindah itu bisa luluh. Entah karena udah bisa menyesuaikan dan seneng sama lingkungan baru atau karena perasaan ‘yaudah lah ya mau gimana lagi’ hahaha.

Tapi tetep aja sih, ada rasa sedih (banget) waktu saya ninggalin Jogja, walaupun setelah jalan 2 bulan ini sedihnya udah sedikit demi sedikit berkurang, hehe. 5 tahun 5 bulan ngabisin waktu di Jogja. Waktu pindah itu rasanyaaaaaa... kaya diputusin pas lagi sayang-sayangnya hahaha. Cuma bedanya, kalo yang ini kan bisa balikan lagi (baca: pindah ke Jogja lagi). Yaaa who knows lah saya bakalan betah di Jakarta apa akhirnya hati ini tak dapat melupakan Jogja dan kembali lagi ke kota itu, muahahaha.



Anyway, terima kasih untuk Jogja dan seluruh isinya, yang udah menghadirkan senyum abadi, yang udah ngebuat saya jadi jauh lebih dewasa dan punya pemikiran yang lebih terbuka. Semoga Jogja selalu mengijinkan saya untuk selalu pulang lagi. Bila hati mulai sepi tanpa terobati. 


See you on top, guys!
Jadi, udah berapa kali nih kamu ngerasain susahnya proses move on dan dapetin makna indah di dalam pindah? :)

*foto-foto lainnya bisa di liat di facebook saya, hahaha -> (P) I N D A H

Rabu, 11 Februari 2015

Terima Kasih... :)

Hai hai... gelaaaaa udah lama banget nggak nge-blog. Banyak banget deh kisah hidup (tsaelaaaah) yang udah saya laluin dari terakhir nge-blog bulan Juli sampe sekarang, hahaha. Dari mulai sidang pendadaran, wisuda, pindah dari Jogja, sampe sekarang udah menetap di Jakarta buat kerja hahaha. Niatnya sih mulai 2015 ini bakal sering nge-blog lagi. Tapi nggak tau terlaksana apa nggak, muahahaha.
Anyway, mau nge-post ucapan terima kasih yang ada di skripsi saya nih. Tapi baru kesampean sekarang, hehehe. Rasanya selesai skripsi ituuuuuuu... luar biasa gaes! Bayangin, saya tuh pernah ada di tahap bertanya pada diri sendiri "gue bisa lulus nggak ya?" saking desperate-nya tiap ke dosen pembimbing revisi mulu, hahahaha. Cerita sampe akhirnya di ACC juga rada kaya sinetron, karena si dosbing tercinta lagi ke luar kota padahal deadline ngumpulin bentar lagi. Alhasil di ACC-nya cuma via SMS hahahaha.
Pas sidang pendadaran juga nggak nyangka dapetin penguji yang asik banget, ditambah saya dibelain sama mas dosbing tercinta! Sempet nggak percaya, dengan skripsi yang amat sangat pas-pasan bisa lulus juga hahaha. Oke maap hidup saya emang penuh ke-lebay-an :))
Senengnya nggak sampe situ, gara-gara takut nggak ada yang dateng pendadaran sama wisuda, saya koar-koar ke banyak orang kalo saya mau pendadaran sama wisuda muahahaha. Alhamdulillah, puji Tuhan banyak yang sayang sama saya, jadinya rame deh pas lagi dua acara penting itu :D
Oh iyaaaa ini dia ucapan terima kasihnyaaaaa... :) 
***
Terima kasih… Alhamdulillah, puji Tuhan, akhirnya skripsiku selesaaaaiiiiiiii jugaaaaaaa. Selain pastinya bersyukur kepada Allah SWT, beribu terima kasih juga aku ucapin buat orang-orang yang ikut ngebantu, ngedukung, nyemangatin, ngedoain, bahkan nyinyirin (karena nggak selesai-selesai, haha) selama proses pengerjaan skripsi ini…
Untuk keluargaku. Ibu Widiasih Aminatun, Bapak Sutrisno, Dek Rizal Alfath, Dek Alfianida, Mas Iin, Mas Agung, Mas Dika, Bude Kranji, Bude Prembun, Bude Tejo, Pakde Kranji, dan semua mas, mbak, adek, bude, pakde, om, bulik, mbah, yang udah ngedukung baik secara moral maupun material.
Untuk dosen pembimbingku. Mas Wisnu Martha Adiputra. Dari awal kuliah aku udah berdoa untuk dibimbing Mas Wisnu pas skripsi, akhirnya doaku terkabul. Ya walaupun di awal sempet nyesel karena revisinya banyak banget, hahaha. Tapi di akhir aku bersyukur, karena berkat dibimbing Mas Wisnu skripsiku jadi (hampir) tanpa cela di pendadaran, hehehe.

Untuk para narasumber skripsi. Pak Nurhadi, Mas Bima Arditya, Mbak Rita Pamilia, Mbak Vinia Rizqi Prima, Mas Rahmanu Hermawan, dan Roy Rosa Bachtiar. Terima kasih karena sudah sangat kooperatif dan membantu.


Untuk kakak angkatan yang skripsinya jadi acuanku. Mbak Susanti Nurul Amri dan Mbak Intan Agisti Nila Sari. Terima kasih banyaaaak Mbak Susan dan Mbak Intan, buat konsep Fink-nya, buat inspirasi kata-katanya, dan buat ijinnya ngebolehin aku liat skripsi kalian, hehehe.
Untuk dua orang terbaik dan terpenting selama kehidupanku di Jogja.
1.     Bayu Ardiyanto. Terima kasih buat semua bantuan dan semangatnya. Terima kasih udah mau sering banget aku repotin dan aku tanyain tentang berbagai hal. Semoga kamu (dan aku juga sih) bisa jadi orang kaya dan sukses! Hahaha.
2.     Risa Listiani. Terima kasih atas dukungannya, baik itu hal yang positif maupun yang negatif, hahaha. Terima kasih buat semua obrolannya tentang mimpi, tentang kerjaan, tentang percintaan, bahkan tentang nyinyirin orang, hehehe. Semoga kita bisa jadi tetangga di Amerika Serikat yaaaa :)
Untuk teman sepermaian Komunikasi UGM 2009. Terima kasih sudah mewarnai kehidupan kuliahku selama 5 tahun 1 bulan ini. Khususnya untuk:
1.     #BNL08 a.k.a Binaling. Siti Alifah Farhana Dinanta, Intan Kurnia Ramadhani, Fitra Armela, Amelina Fauzan Lestari Putri, Putri Amandhari, Sarah Karinda, Septifa Nur Hudania. Terima kasih atas pertemanannya yang walaupun oportunis, tapi sangat menyenangkan. Yang walaupun tiap ketemu selalu ngegosip dan nyinyir, tapi kita ga pernah nyerang salah satu diantara kita. Yang walaupun kuantitas pertemuannya jarang, tapi tiap ketemu selalu berkualitas.  Terimakasiiiiihhhhh binaaaaals! :*
2.     Bebeking. Dimas Rizky Anugerah, Luqman Zaqiy Jatibenang, Ganang Parmanto, Ipeh, Intan, Sarah, Tifa. Terima kasih udah bersedia banyak aku repotin di awal-awal kuliah. Terima kasih buat antar-jemputnya jaman aku belom punya motor. Terima kasih buat kerja kelompoknya. Duh jadi kangen nginep kos Ganang sambil ngece foto Ganang sama pacarnya yang awet banget itu, hahaha.
3.     Sekte Kulon Perpus. Risa, Nabilla, Aghnia, Aip, Afnan, Linna, Ay, Tebo, Pakde, Ulum, Napek, dan Nicko. Terima kasih udah ngajakin aku sama Risa ada di geng ini, hahaha. Terima kasih juga buat segala proses syuting PSTV-nya yang menyenangkan; naik jip mogok di Magelang, nginep dingin-dingin di Kedung Kayang; ngedit bermalem-malem. Terima kasih buat kumpul-kumpul, obrolan-obrolan, dan ketawaketawanya.
4.     Girls on Fire a.k.a Breaking Bitches. Risa, Amnesti Marta, Prasakti Ramadhana, dan Stella Rajasa. Terima kasih udah jadi temen seperskripsian dan seperjuangan disaat yang lain udah pada lulus, hahaha. Terima kasih udah jadi temen yang bikin aku bebas sharing apaaaaaa ajaaaaa tanpa takut dicela. Semoga kita bisa segera keluar dari Indonesiaaaaa, hahaha :))
5.     Teman-teman KomunikASi Ku Sayang (Kaskusian). Santika, Pupun, Asa, Memed, Dhimbay, Ngehek, Happyta, Firsty, Ranum, Kesty, Ikas, Zu, Deri, Andin, Megan, Shofi, Lisna, Wenny, Pandu, Efan, daaaaan semuanyaaaaaa. Terima kasih buat pertemanannya dari mulai ospek, KNP, GC, Komkustik, sampe akhirnya kita udah pada misah, huhuhu :((
Untuk keluarga komunikasi UGM.
1.     PPC. Publicia Photo Club, Publicia Picnic Club, Publicia Percurhatan Club, Publicia Pergosipan Club, dll, hahaha. Terima kasih yaaaa Risa, Dhimbay, Memed, Efan, Afnan, Mbak Intan, Cahya, Mbak Saila, Mas Ari o, Bisma, Ajeng, dll udah ngajarin aku di fotografi. Ya walaupun yang aku dapetin lebih banyak nongkrongnya sih daripada ilmunya, hahaha.
2.     Kine. Terima kasih Mbak April, Dini, Gilang, dan semua anak Kine. Terima kasih karena berkat masuk Kine aku jadi bisa ngerasain produksi film dan referensi tontonanku bertambah!
3.     Komako. Korps Mahasiswa Komunikasi. Terima kasih buat Kak Fania yang ngebuat aku pengen gabung di Komako. Terima kasih buat teman seperjuangan angkatan Wina-Gita, khususnya buat Departemen Medkominfo. Terima kasih juga buat pengalamannya dipercaya jadi Koor Perkap di Ospek Jurusan 2011 :))
4.     Dosen dan Staff Komunikasi UGM. Terima kasih Mas Rizal, Mas Sulhan, Mbak Mutia, Cak Budi, Mbak Lisa, Mbak Monik, Bang Abrar, Mas Dodi, Mbak Rajiyem, dan semua dosen-dosen Komunikasi UGM. Terima kasih juga buat Mas Bari, yang selalu mau nerima berkasku walaupun sering telat ngumpulin, hahaha.

Untuk teman-teman organisasi, teman-teman komunitas, dan teman-teman kerja. Tempat aku belajar banyak dan jadi manusia yang tangguh (halah), hahaha.
1.     SKM UGM Bulaksumur. Risa, Bayu, Mbak Didi, Mbak Rifki, Mbak Nadia, Ferdi, Mbak Susan, Mbak Lulu, Mbak Nindi, Ijat, Hanum, Itok, Manda, Adit, Mada, Bang Beryl, Mas Aldi, Kecap, Pandu, Aji, Chilmi, Dian Kur, Indi, Anis, Winny, Salsa, Mayang, Novan, Sidiq, Mas Remo, Kautsar, Dinda, Sekar, Mbak Anji, Mbak Sinta, Mbak Pipit, Mas Juned dan semuanyaaaaa temen-kakak-adek angkatan yang udah bikin masa-masa di UGM jadi sangat-sangat menyenangkan. Terima kasih buat ilmunya, buat kekeluargaannya, buat obrolan-obrolannya, buat curhatan-curhatannya, buat nongkrong-nongkrongnya, dan buat segala hal yang terjadi di B21 Jalan Kembang Merak! :*
2.     ECC UGM. Mbak Rita Pamilia, Mbak Vinia Rizqi Prima, Mbak Pepy Amalia, Mbak Elyana Septi Hidayanti, dan Mbak Rifki Amelina Fadhlina. Terima kasih buat ilmunya, buat gosipnya, buat sharing-nya, dan buat jalan-jalan ke Bali-nya. Terima kasih buat teman-teman freelance, Novan, Mada, Indah, Ardan, Mbak Imas, Dimas, Angga, Tongki, Ocha, Ita, Dewi, dll. Terima kasih juga untuk seluruh staff ECC UGM, terutama Mbak Dee, Mbak Dewi, Pak Hadi, Mas Deka, Mas Broto, Mas Bima, Mas Rudi, Mbak Wintang, Mbak Emi, yang udah ngebantu aku selama magang dan jadi freelance.
3.     Eureka Consultant. Terima kasih untuk Nabilla Kusuma Vardhani yang udah ngajak aku gabung di konsultan yang luar biasa kerennya. Terima kasih untuk Mas Mohammad Genta Mahardhika yang udah ngasih aku kesempatan untuk jadi trainer dan dipercaya jadi tim manajemen disini. Terima kasih buat sahabat trainer, Sisil, Rensy, Afidha, Kak Fika, Mas Jumran, Kak Hendra, Alif, Kak Tia, Ifah, Alfe, Sari, Yoga, Kak Adi, Molly, dan semuanyaaaa. Seneng banget bisa ada di tengah-tengah kalian. Semoga misi membuat pemuda Indonesia jadi Golden Generation terwujud! :D
4.     Kompas MuDA. Terima kasih banyak mbak-mas Kompas (Mbak Paula, Mbak Ita, Mbak Lena, Mbak Sara, Mbak Flavi, Mbak Titi, Mas Aris) buat kesempatannya ngajak aku ikutan event-event Kompas. Terima kasih banyak teman-teman Kompas MuDA (Risa, Santika, Fikri, Yudha, Nicko, Ardan, Denty, Ayip, Tongki, Raro, Wawan, Gigi, Mbak Yaya, dll) buat ketawa-ketawanya yang selalu ngangenin!
5.     Akber Jogja. Untuk Mas Rafly yang udah mengen-mengenin aku buat jadi volunteer. Untuk Dadan, Setyo, Adon, Ambon, Nitha, yang udah berjuang bikin kelas bareng di awal aku masuk, sampe pengalaman yang menakjubkan di Jakarta (minus Dadan sih, haha). Untuk Masus, yang udah kaya cenayang plus HRD plus pendengar yang baik. Untuk Latip dan Onde, yang sering aku repotin masalah laptop dan kadang numpang curhat juga, hahaha. Untuk Mbakcha, Valen, Kiana, Lintang, Depi, Selly, Mia, Echi, Tika, juga cewek-cewek Akber lain yang udah berbagi gosip, hehehe. Dan untuk volunteer Akber Jogjaaaaah semuanyaaaaaaah Angri, Dende, Cahya, Ejak, Nanda, Dio, Nini, Dharmo, Azila, Ghani, dll. Beribu-ribu terima kasih deh pokoknyaaaaaaah…
6.     Swaragama FM. Terima kasih Indira, Kak Fania, Asad, Kak Ayu, Ajis, Panji, Radin, Robik, Jofan, Mas Boma, Andin, Kak Tika, Indra, Iyan, dan semua temen-temen di Swaragama FM (yang pernah ataupun masih disana), yang walaupun aku udah lama keluar dari training tapi tetep bisa temenan sampe sekarang.
7.     Alumni VDMS Jogja. Terima kasih Mas Rahmanu, Mbak Jessica, Mbak Pungky, Mas Andreas, Melly, Mas Ian, Daniel, Mbak Ida, Mbak Chrisan, Pak Nizam, Mahmud, dan semua temen-temen alumni VDMS Jogja. Aku akan selalu merindukan ngobrol-ngobrol bareng kalian di Omgie (terutama ayam gepreknya sih, haha).
8.     MC Wisuda UGM. Terima kasih buat seluruh temen-temen MC Wisuda UGM dan Staff Protokoler UGM, karena udah ngewujudin salah satu mimpi aku buat jadi MC di acara wisuda, hehehe.
Untuk teman-teman KKN Ngenep 2012. Geng Bibir Sub Unit Ngenep: Valendra Granitha Shandika Puri, Niken Dyah Setyaningrum, Lisa Saras Wati, Adistita Paramahita, Mustafa Rayhan, dan Yanuar Reza. Terima kasih untuk 35 harinya yang menyenangkaaaaaan dan kadonya pas ulang tahun (plus besok pas wisuda, hahaha). Terima kasih untuk Sub Unit Tumpangrejo (Rico, Ari, Indra, Darojat, Mia, Yayun, Aster) dan untuk Sub Unit Mojosari (Novan, Fian, Lintang, Irma, Puter, Cindy, Praja, Eny). Terima kasih juga buat Novan, temen ngeluh, ngegosip, nyinyir, dll yang nggak cuma di KKN tapi juga di luar KKN, hahaha.
Untuk Kos Surono. Terima kasih untuk Bu Surono dan alm. Pak Surono, yang udah jadi ibu dan bapak kos terbaik. Terima kasih untuk Mbak Salim, yang udah banyak ngebantu anak kos di kerjaan-kerjaan rumah tangga. Daaaaan terima kasih untuk mbak-mbak dan adek-adek penghuni (dan mantan penghuni) kos, Mbak Siti, Duo Mbak Nisa, Mbak Eli, Mbak Uli, Mbak Fia, Winny, Tiara, Netria, Mbak Fitri, Mbak Uci, dan Cindy.
Untuk teman-teman sesama perantau dari Bekasi. Nia, Kele, Ganta, Moko, Naval, Gusti, Kakek, Silmi, Icha, Kadek, dll. Akhirnyaaaaa gue wisuda juga yaaaa nyusul kalian, hahaha.
Untuk teman-teman SMA yang jauh di mata tapi dekat di WhatsApp. Dable & Ranger (Nia, Adit, Febby, Titan, Kak Aziz, Kak Hendy, Kak Dian, Kak Dara, Reza, Destia), keXIan (Meri, Silbo, Indah, Eva, Isti, Uthi, Putri, Sila, Cempreng, Aya), Dondon, Mbie, Sodik, Hemz, dll. Terima kasih udah sering nanyain kapan gue lulus, jadinya termotivasi buat segera nyelesein skripsi, hahaha.

Untuk Jogja dan seluruh isinya, yang udah menghadirkan senyum abadi, yang udah ngebuat aku jadi jauh lebih dewasa dan punya pemikiran yang lebih terbuka. Semoga Jogja selalu mengijinkanku untuk selalu pulang lagi. Bila hati mulai sepi tanpa terobati. 


*kalo mau loat foto-foto wisudanya bisa di liat disini: https://www.facebook.com/annisa.i.tiwi/media_set?set=a.10204320206341101.1073741835.1107501893&type=3 hehehe hehehe