Jumat, 01 Mei 2020

Merayakan Hari Buruh dengan "Turun ke Jalan"

Selamat Hari Buruh untuk saya, kamu, kita, dan semua orang yang bekerja masih harus dibayar orang! Hehehe.

Apa yang kamu lakukan di Hari Buruh ini? Enaknya rebahan sih emang karena harus #dirumahaja. Tapi kalau saya tadi harus turun ke jalan. Turun ke jalan dalam arti sebenarnya, ya. Hahahaha.

Singkat cerita, saya lagi jualan Sirup Jahe, dan ada teman yang pesan untuk re-seller. Saya tinggal di Bekasi, teman tinggal di Meruya, Jakarta Barat. Akhirnya kami sepakat janjian di Stasiun Juanda, biar di tengah-tengah.

Taraaa, buat yang pengen tau gimana Commuter Line di kala PSBB dan Hari Buruh. Ini dia...


Sampai Stasiun Bekasi jam 13.30 WIB
Di dalam Commuter Line Bekasi - Jakarta Kota, ya masih sama kayak hari biasa sih hehe
Di Stasiun Juanda nyaris nggak ada orang
Di Stasiun Juanda cuma kasih Sirup Jahe (ini ada dua tas harusnya haha), terus pulang deh
Kereta pulang dari Stasiun Juanda ke Stasiun Bekasi lebih sepi, jam 14.30
Bonus foto 👌

Hari ini karena tanggal merah, itungannya sepi sih Commuter Line. Kalau hari biasa, walau PSBB, ya masih lumayan rame lah hahaha.

Yak, baiklah demikian cerita turun ke jalan saya di Hari Buruh ini. Selamat sekali lagi!


Senin, 06 Mei 2019

#PelajaranRamadan: Tentang Berkumpul dengan Keluarga

Es Sirup Mangga Nutrijel, menu takjil berbuka


"Jadi PNS itu enaknya nanti kalau udah punya keluarga, apalagi bulan puasa. Sebelum Ashar udah pulang, jadi bisa nyiapin buka puasa di rumah."

Kalimat yang berulang kali dibilang Ibu kalau saya lagi cerita belum betah jadi PNS. Masuk bulan ketiga jadi PNS, eh masih CPNS deh haha, emang saya masih dalam tahap penyesuaian banget. Maklum empat tahun lebih kerja di perusahaan dengan start-up life, hehe.

Tapi hari ini, di hari pertama puasa Ramadan, saya baru merasakan senangnya jadi (C)PNS. Ke luar kantor jam 3 sore. Jam 5 sore sudah sampai di rumah. Itu juga karena Commuter Line ketahan-tahan, kalau nggak ketahan, mungkin 4.30 sudah sampai rumah.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah saya kerja kantoran, saya bisa buka puasa di rumah! Bareng sama Ibu, Bapak, dan Adik Laki-laki saya yang kebetulan lagi di rumah.

Lagi-lagi saya mengamini, Tuhan itu nggak kasih yang kita inginkan, tapi yang kita butuhkan...

Selamat berpuasa, ya, bagi yang menjalankan. Semoga segala ibadahnya dilancarkan... ;)





#PelajaranRamadan
#Hari1

Minggu, 28 Mei 2017

5 Hal yang Diperhatikan Generasi Millennial Saat Memilih Kerja



Beberapa bulan ke belakang, obrolan tentang Generasi Langgas atau Generasi Millennial memang lagi hangat-hangatnya dibicarakan. Wajar saja, karena generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai dengan 2000 awal ini, lagi mendominasi dunia kerja. Topik tentang millennial pun nggak hanya muncul di berita online saja, tapi juga mulai merambah ke obrolan antar teman, baik secara langsung maupun di grup-grup chat.

Seperti yang saya alami. Belum lama ini, salah satu dari sekian grup WhatsApp saya yang aktif, yaitu Grup KIJKT5 Kelompok 52 (grup kelompok Kelas Inspirasi saya tahun lalu), sedang membahas tentang pekerjaan khususnya hal yang harus diperhatikan ketika memilih pekerjaan. Salah satu teman saya, Putri, yang bekerja di sebuah industri otomotif, melemparkan sebuah pertanyaan, hal apa saja sih yang jadi prioritas kami untuk memutuskan bekerja di sebuah perusahaan, termasuk kepada keputusan tetap bertahan atau harus resign.

Lalu dari sepuluh orang yang ikutan menjawab di grup, saya akan bahas lima poin sesuai peringkat, tentang hal-hal yang diperhatikan Generasi Millennial saat memilih kerja. Walau hanya sepuluh responden, tapi anggap lah bisa mewakili working millennial, karena kami bersepuluh ini berasal dari latar belakang yang beragam. Mulai dari millennial baru lulus kuliah sampai yang sudah bekerja tahunan. Mulai dari pekerja start-up sampai PNS. Mulai dari dokter sampai wartawan. Mulai dari karyawan di perusahaan baru sampai di perusahaan ternama.


1. Jenjang karir

Karir adalah peringkat pertama dari pilihan kami. Sebagai millennial, sudah bukan rahasia lagi kalau kami generasi yang butuh apresiasi, hehehe. Iqbal, seorang wartawan sebuah media besar di Jakarta berpendapat, "Buat gue, gaji memang penting, tapi kalau gaji gede karir mandek dan atasan ngebetein juga bikin nggak betah."

Agak sombong sih memang kedengarannya, tapi mungkin ini setara dengan energi kami yang selalu ingin belajar banyak hal baru. Seperti yang dibilang Rama, millennial termuda di grup kami yang baru saja lulus dan bekerja sebagai staff IT. "Kalau gue sih pilih kantor yang bisa mengembangkan ilmu gue lagi, yang nggak bikin stuck ilmunya. Soalnya haus ilmu, hehehe," katanya.

Karir juga bikin Wulan, staff legal yang sudah kerja lima tahun di perusahaan FMCG ternama, pengen cari kesempatan baru. "Udah enak sih, karyawan tetap, gaji dan benefit lumayan, tapi kalau udah lima tahun gini-gini aja karirnya, jadi suka kepikiran cari yang baru."


2. Lingkungan kerja

Bagi saya (saya juga termasuk ke dalam sepuluh responden, jadi boleh kan ya nulis pendapat sendiri, hehe) yang tipe orangnya sangat kolaboratif, lingkungan kerja menyenangkan harus jadi prioritas. Karena saya jadi nggak bisa kerja kalau nggak punya teman di kantor. Selain teman kerja, juga teman untuk sekedar berbagi gosip receh atau sekedar tertawa akan hal yang sebenarnya nggak lucu-lucu banget. Untungnya kantor saya yang didesain berlingkungan semi start-up, memenuhi kebutuhan itu.

Walau terkenal sebagai generasi adaptif, nyatanya lingkungan kerja, termasuk di dalamnya teman-teman, atasan, suasana, dan job description masih menjadi salah satu pertimbangan utama para working millennial.


3. Gaji dan fasilitas

Sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial, nggak bisa dibohongi kalau gaji jadi salah satu pertimbangan. Umumnya, tujuan manusia bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kegiatan bersosialnya. Tentu saja dengan uang.

Nah tapi uniknya, bab gaji ini bukan jadi pertimbangan paling utama bagi working millennial. Pembuktiannya ada di pendapat Iqbal dan Wulan di bagian "Jenjang karir" di atas. Beberapa dari millennial pun lebih concern mengenai fasilitas kantor selain gaji, seperti fasilitas makan siang, fasilitas olah raga, atau bahkan fasilitas hiburan di kantor.


4. Lokasi kantor

Bagi pekerja ibukota yang tinggalnya bukan di ibukota (baca: kerja di Jakarta tapi tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi), lokasi juga menjadi hal penting. Mengingat biaya kost di Jakarta yang kian mahal dan bisa memotong hampir sepertiga atau bahkan setengah gaji, adalah hal bijak bagi kami untuk mempertimbangkan lokasi kantor.

"Pertimbangan gue sih lokasi harus deket rumah, jadi nggak berat di ongkos dan uang gajinya cukup," ungkap Lissa, seorang dokter yang prakter di rumah sakit dekat rumahnya di daerah Jakarta Utara. Lain lagi dengan Indah, karyawan bank syariah yang sudah bertahun-tahun jadi anker, nama keren dari anak kereta. "Gue mah kerja dimana aja, tapi yang penting harus deket stasiun kereta, biar gampang pulang perginya," tambahnya yang sehari-hari harus pulang pergi Bekasi - Jakarta Selatan.


5. Sesuai dengan passion

Dari kelima pertimbangan, bekerja sesuai dengan passion jadi urutan paling buncit. Memang kenyataannya, banyak dari kami yang bekerja nggak sesuai dengan jurusan kuliah atau nggak sesuai dengan kesenangan sebenarnya. Tapi toh kami masih bertahan di pekerjaan masing-masing. Seenggaknya sampai tulisan ini diterbitin, hahaha.

Ada beberapa dari kami yang ingin mengejar passion-nya. Tapi realitanya, masih tetap bertahan di kantor sekarang. Contohnya adalah Putri, si pemberi ide bahasan ini. "Kadang pengen juga ngerasain nyoba di perusahaan yang sesuai background atau passion, tapi di kantor sekarang sudah ada di comfort zone, jadinya tetep di sini nggak resign."

Beberapa dari kami pun mencoba memenuhi hasrat dan kesenangan kami, seperti senang mengajar, senang fotografi, atau bahkan senang berjejaring, dengan mengikuti Kelas Inspirasi. Dengan begitu, kami tetap bisa bekerja di kantor masing-masing, tapi passion kami tetap tersalurkan di komunitas ini, hehehe.


Dan lalu, obrolan tentang hal ini ditutup dengan pendapat dari Rosa, anggota grup yang kami seniorkan karena pengalaman kerjanya yang sudah banyak dan malang melintang di berbagai perusahaan, "Sebaiknya, kalau kalian mau cari pekerjaan baru nggak hanya to increase our salary but how to build our career. Dan bagi gue yang sudah beberapa tahun kerja, keja itu nggak cuma ngejar aktualisasi dan cari uang aja, yang paling penting adalah bisa berkontribusi buat orang sekitar kita."


Jadi, kalau kamu gimana nih? Selain lima hal di atas, ada hal lain kah yang dijadikan pertimbangan saat memilih kerja? 

Sabtu, 10 Desember 2016

Surat untuk Limitless Campus




Halo Limitless Campus!

Apa kabar? Kalau lagi nggak baik-baik aja juga nggak apa-apa, kok. Kadang kita emang harus merasakan sakit buat tahu betapa enaknya sehat, hahahaha sok bijak, ye! Eh iya, mau kenalan dulu nih sebelumnya tentang diriku, Lim. Nyebut Lim, berasa manggil Junior Liem suaminya Putri Titian, ya? Hahahaha! Nggak apa-apa lah ya, biar lebih akrab, hihihi. Jadiiii, aku ini Annisa Ika Tiwi, biasa dipanggil Nisa, ada juga yang panggil Anis atau Tiwi, dan kalau di rumah dipanggilnya Icha. Aku sih lebih seneng dipanggil Cantik walau belom pernah ada yang panggil itu. Yak, silakan tertawa berjamaah! Hahaha. Aku ini seorang Pisces, Sanguinis, dan ESFP yang secara garis besar kepribadiannya itu ekstrovert, sangat perasa, suka sok sibuk karena mengiyakan semua peluang, suka kerja keras akan hal apapun, pelupa, berantakan, daaaan seneng banget jadi pusat perhatian, hehehe. Dari dulu sampai sekarang, cita-cita terpendamku adalah jadi artis, walau nggak tahu gimana cara wujudinnya, haha. Sehari-hari aku berprofesi sebagai Social Media Specialist lalu kadang di akhir pekan jadi kru Wedding Organizer.




Tahu nggak, alasan kenapa aku mau ikutan kegiatanmu ini, Lim? Karena mau balas dendam! Hahahaha! Ceritanya aku pernah baca sebuah quotes dari akun Instagram @thegoodquote, “The best revenge is to improve yourself.” Ya maklum, anaknya suka kehilangan semangat jadinya yang di-follow akun-akun quotes motivasi, mehehehe. Tapi diriku bukan penggemarnya Mario Teguh kok. Cuma suka ngikutin gosipnya aja di @lambe_turah. Hahahahaha, anywaaaayyy back to the revenge. Iya, aku mau balas dendam. Balas dendam ke diriku sendiri yang sampai di umur hampir 25 tahun ini, belom berbuat banyak hal berguna, nggak cuma untuk masyarakat tapi juga untuk diri sendiri. Balas dendam karena iri liat temen-temenku di umur yang sama udah dapet beasiswa kuliah ke luar negeri, udah bisa jadi manajer di perusahan tempat dia kerja, udah sukses bikin start up-nya sendiri, dan pencapaian-pencapaian lain. Aku mau balas dendam dengan buktiin, aku juga bisa kok berbuat hal-hal keren kayak mereka. Biasalah, aku anaknya iri-an banget, hahaha. Tapi iri untuk hal yang baik, boleh kan, Lim?


Thanks to Lintang, Ibu Kepala Sekolah Limitless Campus, temenku KKN (Kuliah Kerja Nyata) jaman kuliah dan temen komunitas Akademi Berbagi Jogja, yang udah ngasih informasi tentang kegiatan ini. Iya, di tengah kegalauan yang kata orang bahasa kerennya quarter life crisis, Tuhan ngasih aku solusi dengan kehadiran Lintang, hahaha. Suatu hari di sebuah kumpul geng KKN dalam rangka jenguk temen yang abis melahirkan, Lintang bilang kalo dia dan tim di kantornya lagi bikin sebuah kegiatan yang namanya Limitless Campus. Dari cerita Lintang, aku langsung kepo di medsos tentang kegiatan ini. Daaan aku ngerasa kalau Limitless Campus itu aku banget. Bahkan aku sampe turn on notification di Instagram biar pas pendaftaran Limitless Campus dibuka aku langsung daftar, hahaha. Bangga juga sih, akhirnya video interview tanpa persiapan sebagai syarat masuk Limitless Campus, di-upload di Instagram buat jadi contoh dan diliat banyak orang, hihihi. Dasar banci tampil! 


The one and only, Lintang Gustika! 

Aku seneng banget lho, Lim, pas aku diumumin lolos jadi 61 calon student dan disuruh dateng ke Soehana Hall, The Energy Building, 5 November yang kemudian diundur jadi 12 November, hehehe. Alhamdulillah puji Tuhan! Rasanya luar biasa senengnya, ketemu sama temen-temen baru dengan value dan energi yang sama. Sebenernya, perasaan seneng kayak gini bukan yang pertama sih buat aku. Perasaan ini sama rasanya pas aku ikut jadi Relawan Pengajar di Kelas Inspirasi Jakarta. Juga, perasaan yang sama tiap kali bikin kelas di Akademi Berbagi Jogja jaman kuliah dulu. Tapi ya, Lim, bisa dibilang aku tuh semacam ketagihan dengan rasa seneng kayak gitu. Rasa seneng ketemu teman baru, rasa seneng dapat ilmu baru, dan rasa seneng ada di lingkungan baru yang semuanya aku yakin bisa bikin aku balas dendam, hehehe. Semakin seneng karena akhirnya aku adalah satu dari 33 student di Limitless Campus batch 1. Yeay!


Day-0 bersama 61 calon student di Soehana Hall, The Energy Building 

Day-1 bersama 33 student di Wika Tower 

Oh iya, ada satu lagi deh kenapa aku pengen gabung kegiatanmu ini, Lim, selain balas dendam. Apalagi kalau bukan karena Rene Suhardono! Hahaha! Aku udah ngikutin Rene dari jaman buku Your Job is Not Your Career. Bahkan pas Rene ngisi di kelas Akber Jogja, aku ngajuin diri buat jadi MC. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah biar Rene tau aku hahaha. Dan itu berhasil, lho. Beberapa tahun kemudian, pas aku datengin acara di Comma, aku bilang Rene kalau aku anak Akber Jogja yang dulu jadi MC. Terus Rene bilang, "Ah iya gue inget lo, Sob! Apa kabar?" Rasanya seneng banget, cooooy. Yaaa walaupun nggak tau ya Rene jujur apa enggak. Tapi aku percaya kok kalo Rene jujur, mehehehehe. Setelah masuk Limitless Campus dan ketemu banyak mentor dan coach, ternyata idolaku ganti. Eh bukan ganti deh tapi nambah. Aku sekarang jadi mengidolakan Mas Didi Mudita, hahaha. Pandji Pragiwaksono dan Indra Bekti aja di-training sama Mas Didi. Kebayang lah betapa kerennya doi, hihihi. Suka banget aja sama semua yang Mas Didi omongin, yaa nggak semuanya sih hehe. Mas Didi tuh suka ngomong ake guyonan-guyonan yang lucu abis tapi malah jadi kena di pikiran.

Nah, ada ceita lagi nih, Lim. Pas aku pamit di Soehana Hall tanggal 12 November, Rene tanya aku, “Mau masuk house mana?” Eng... jujur bingung mau jawab apa. Sebelumnya kan cuma dijelasin sekilas tentang kita akan dibagi jadi lima house yaitu Agni (api), Bhumi (bumi), Bayu (angin), Giri (kayu), dan Tirta (air), tanpa aku tahu arti selanjutnya, hehehe. Terus, aku cuma asal jawab aja yang terlintas di pikiran. "Kayaknya pengen masuk Bayu deh, Rene." "Loh emang kenapa?" "Ya kayaknya gue anaknya suka kesana-kesini kayak angin." Daaaan emang bener kata Nabi Muhammad SAW yaaa, omongan adalah doa! Di minggu kedua kelas di Wika Tower tanggal 19 November, pas para students dibagi kelompok (house) berdasarkan kecocokan coach dan student, aku dapet House of Bayu doooong. Padahal yaaa paginya di hari itu aku udah bilang ke Lintang jangan sampe aku masuk House of Bayu hahaha. Jadi gini Lim, Bayu itu nama mantanku hahahahaha. Makanyaaaa pas Rene tanya, Bayu jadi nama elemen yang nggak asing di kepala, soalnya aku kan nggak punya temen namanya Agni, Bhumi, Giri, atau Tirta yaaa, mehehehehe. Padahal mah sebenernya nggak mau kalo masuk House of Bayu. Nggak mau karena, nggak keren banget kalo aku pamer pamer Limitless Campus di medsos ada nama Bayu-nya! Bayu kan so yesterday banget. Yaa walaupun sekarang di kantorku ada dua orang yang namanya Bayu. Hahaha!

Pengumuman student ada di house mana dan siapa coach-nya di Wika Tower.
Ki-ka: Mbak Peggy (coach), Audy, Fajar, Diriku, Cherie, Yuza, Qaedi, dan Mbak Hanny (coach). 


Tapi jujur, aku bahagia banget, Lim, masuk di House of Bayu. Karena aku bisa ketemu Mbak Dilla Amran yang jadi coach aku. Aku tanya, kenapa sih dia pilih aku? Dia bilang karena di profil yang aku buat, aku nulis pengen buat proyek semacam Humans of New York-nya Brandon Stanton. Jeng jeng... aku merasa terharu karena ada yang notice sama impianku itu. Meeeennn Mbak Dilla yang jadi co-writer Generasi Langgas-nya Mas Yoris Sebastian dan Business Director-nya OMG Consulting mau jadi coach akuuuu! Daaan setelah dua kali coaching sama Mbak Dilla, aku mengamini, everything happens for a reason. Aku dan Mbak Dilla punya banyak banget pemikiran yang sama, dan banyak fenomena serupa yang sama-sama kita alamin di hidup kita. Aku jadi bersyukur ada di House of Bayu, karena aku bisa ketemu Mbak Dilla. Juga karena aku punya temen-temen se-house yang sangat seru, menyenangkan, keren, dan suportif. Really, I want to make you being my inner circle, gengs Bayu! Semoga kalian juga mau, ya ya? Hehehe.


Foto gaya angin dari House of Bayu, Day 3 di PGN Office 

There she is! Mbak Dilla Amran! 

Segitu aja deh ya kayaknya. Pokoknya salut banget deh, Lim, sama semua kegilaan di kegiatan ini. Kegilaan para coach dan mentor yang rela membagi ilmu dan waktunya, kegilaan para penyedia tempat yang dengan senang hati meminjamkan ruangannya, dan yang pasti kegilaan para panitia yang mau sabar menghadapi student yang kadang suka seenaknya dan nggak tau diri, kayak aku, hehehe. Semoga bahagia selalu mengiri dan Tuhan selalu memberkati kalian semua. Merdeka!


Limitless Campus Family, Day-2, Medco Energy Office 

Limitless Campus Family, Day-3, PGN Office 

---


P.S. selama empat minggu ke belakang dan masih ada enam minggu ke depan, saya sedang mengikuti kegiatan Limitless Campus. Dan surat ini saya buat dalam rangka salah satu improvement untuk Limitless Campus. Secara singkat, di kegiatan ini para students bakalan diajak untuk men-design hidupnya yang harapannya keluar dari Limitless Campus, kita bakal jadi seseorang yang keren, nggak cuma buat diri sendiri, tapi juga bisa berguna buat lingkungan. Selama sepuluh minggu kegiatan, para students didampingi satu coach yang akan membimbing untuk mencapai goal kita. Tiap minggunya juga akan ada kelas yang diisi sama mentor dan guru yang luar biasa dahsyatnya, hahaha. Daaaaan kita juga bakalan dapet temen yang seru abiiiissss. Kegiatan ini, asli berguna banget. You should join this in the next batch! Go check @LimitlessCampus Instagram account, for further excitement ;)

Senin, 06 Juni 2016

#NulisJuga Lagi Edisi Ramadhan



---

It's been a year banget ya ternyata dari terakhir nulis di blog ini. Sooooo many things already happened in a year, both good and bad hahaha. Cuma terlalu males untuk cerita pake tulisan panjang aja di blog ini fufufu. Sebenernya Januari lalu juga ikutan proyek #NulisJuga, tapi nulisnya di tumblr bukan di blogspot. Alesannya karena pengen nulisnya dari handphone aja, daaaan blogspot nggak bisa kepasang di handphone-ku hiks, bisanya tumblr doang hahahaha sepele banget.

Well, #NulisJuga itu awalnya program nulis di blog 30 hari yang dibuat sama Adon, Setyo, dan Lintang (teman-teman Akber Jogja) yang kemudian diikuti oleh saya, Nitha, Valen yang lupa blognya HAHA, dan Lathif (teman-teman Akber Jogja juga) di bulan puasa tahun lalu. Walaupun akhirnya kita pada berhenti di tengah jalan karena males, mehehehehe. Lalu, program ini dihidupkan lagi sama Prima (masih teman Akber Jogja yang blognya lagi nggak bisa dibuka HAHA) Januari lalu. Untuk program yang kedua ini, banyak banget yang ikutan dan pada rajin nulis karena memang perjanjiannya akan dikenakan sanksi berupa posting nama alay di medsos buat yang nggak nulis.

Nah di bulan puasa tahun ini, niatnya sih saya mau menulis lagi selama 30 hari penuh masih dengan hashtag #NulisJuga. Yaaa itung-itung bisa jadi kegiatan mengisi waktu luang biar nggak mati gaya di Commuter Line pas berangkat sama pulang kerja. Maklum sejak awal Januari saya jadi anker, anak kereta, hahaha. Semoga istiqomah dan jalannya lancar bin mulus ya kayak foto jalan tol jakarta (yang tumben banget sepi) di atas.

Jadi siapa yang mau ikutan #NulisJuga edisi Ramadhan? Lumayan lho, buat temen ngabuburit biar nggak bete di rumah atau di kost, daripada nggak ada yang ngajakin kemana-mana dan ngapa-ngapain, ya kaaaan? HAHAHA. Nggak usah pake sanksi-sanksian lah ya. Kesadaran diri sendiri aja, namanya juga udah gede. Sekalian belajar bertanggung jawab sebelum kalian tanggung jawab beneran ngehidupin anak sendiri ntar hahaha!

Yuk? ~